Nilai Tukar Rupiah
Rupiah Jeblok Lagi, Kurs Rupiah Melemah 0,84 Persen, Cadangan Devisa Turun 5 Bulan Beruntun
Rupiah melemah bersama sejumlah mata uang Asia. Ringgit Malaysia paling tertekan dengan pelemahan 1,07 persen
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah makin tak terbendung. Senin 8 Juni 2026, kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 152 atau 0,84 persen menjadi Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah kembali mencatat sejarah paling lemah baru.
Kurs rupiah Jisdor pun melemah ke rekor baru. Hari ini, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 132 atau 0,73 persen menjadi Rp 18.171 per dolar AS.
Kemarin, Bank Indonesia (BI) merilis angka terbaru cadangan devisa per Mei 2026. Cadangan devisa turun US$ 1,3 miliar dalam sebulan menjadi US$ 144,9 miliar dari posisi US$ 146,20 miliar pada akhir April 2026.
Cadangan devisa ini adalah cadangan terendah sejak Juli 2024 atau hampir dua tahun terakhir.
Baca juga: TANTANGAN Fluktuasi Kurs, Penguatan Berkelanjutan Kunci Masa Depan Industri Minuman Kemasan
Cadangan devisa pun turun dalam lima bulan berturut-turut sejak Januari 2026.
Rupiah melemah bersama sejumlah mata uang Asia. Ringgit Malaysia paling tertekan dengan pelemahan 1,07 persen. Rupee India pun melemah 0,80 persen.
Peso Filipina melemah 0,31 persen. Dolar Taiwan melemah 0,29 persen. Baht Thailand melemah 0,05 persen. Dolar Hong Kong melemah 0,02 persen.
Sedangkan sejumlah mata uang Asia mampu menguat. Won Korea terutama menguat 1,54 persen dalam sehari. Yen Jepang menguat 0,19 persen. Dolar Singapura menguat 0,16 persen. Yuan China menguat 0,05 persen.
Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia hari ini melemah tipis 0,01 persen menjadi 100,05.
Indeks dolar kembali menguat ke atas 100 sejak akhir pekan lalu. Sejak awal Juni, indeks dolar cenderung menguat.
Indeks dolar AS atau DXY kembali menembus level psikologis 100 pada awal pekan ini. Penguatan dolar AS ini memberi tekanan pada kurs rupiah berlanjut. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.52 WIB, Senin 8 Juni 2026, DXY berada di level 100,01.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, penguatan DXY didorong kombinasi faktor ekonomi AS dan sentimen risk-off di pasar global.
Amru menyebut, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dirilis pekan lalu menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat.
Penambahan lapangan kerja tercatat jauh melampaui ekspektasi pasar sehingga memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve belum akan terburu-buru memangkas suku bunga.
“Data tenaga kerja yang masih solid membuat pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama,” ujar Amru, Senin 8 Juni 2026.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Rupiah-Jeblok-Lagi-Kurs-Rupiah-Melemah-084-Persen-Cadangan-Devisa-Turun-5-Bulan-Beruntun.jpg)