Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Jeblok Lagi, Kurs Rupiah Melemah 0,84 Persen, Cadangan Devisa Turun 5 Bulan Beruntun

Rupiah melemah bersama sejumlah mata uang Asia. Ringgit Malaysia paling tertekan dengan pelemahan 1,07 persen

Tayang:
Istimewa/generated AI
Ilustrasi uang by AI - Rupiah Jeblok Lagi, Kurs Rupiah Melemah 0,84 Persen, Cadangan Devisa Turun 5 Bulan Beruntun 

Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong aliran dana ke aset-aset safe haven, termasuk dolar AS. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap mata uang AS kembali meningkat.

Amru memperkirakan DXY akan bergerak pada kisaran 98 hingga 104 sepanjang semester II-2026 dengan kecenderungan tetap berada di level yang relatif kuat.

Ia menyebutkan, dolar AS masih berpotensi menjadi pilihan utama investor global selama inflasi AS belum sepenuhnya terkendali dan aktivitas ekonomi masih menunjukkan ketahanan.

Meski demikian, arah pergerakan DXY pada paruh kedua tahun ini tetap akan ditentukan oleh sejumlah faktor.

Mulai dari kebijakan suku bunga Federal Reserve, perkembangan ekonomi negara-negara utama, hingga dinamika geopolitik global. (kontan)

Tekanan hingga Akhir Tahun

Di tengah prospek penguatan dolar AS tersebut, rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir tahun.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.900-Rp 18.200 per dolar AS dalam jangka pendek.

Sementara hingga akhir 2026, rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp 17.700-Rp 18.300 per dolar AS.

Menurutnya, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS dan sentimen kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan neraca perdagangan, arus modal asing, serta langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“Selama faktor eksternal masih mendominasi, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan berada dalam tekanan yang terbatas,” kata Amru.

Ekonom Center of Reform (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, volatilitas dan tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih tinggi dalam jangka pendek.

Namun, memasuki paruh kedua tahun ini, peluang stabilisasi mulai terbuka.

Sebagian tekanan musiman seperti repatriasi dividen dan kebutuhan valuta asing untuk musim haji akan berkurang.

Sumber: Kontan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved