Citizen Jurnalism
Mengapa Pasien Covid-19 Tak Mampu Mencium Bau?
“Awalnya coba nyium kopi, tapi baunya menurun selama 4 hari. Setelah itu, aku mandi seperti biasa dan nggak bisa mencium wangi sabun sama sekali,"
Seperti yang dialami oleh seorang pasien perempuan terkonfirmasi Covid-19 berusia 24 tahun asal Bali yang menceritakan bahwa tidak ada keluhan demam ataupun batuk yang ia rasakan sebelumnya.
• Bantu UMKM di Tengah Pandemi Covid-19, Dekranasda Bali Hadirkan Pameran Virtual
• Ketua BEM Unud Sayangkan Demo Mahasiswa di Bali Malah Dibawa ke Isu SARA
• 2.547 Kasus di Badung Per Oktober, Dinkes Badung Imbau Masyarakat Waspadai DBD
“Awalnya coba nyium kopi, tapi baunya menurun selama 4 hari. Setelah itu, aku mandi seperti biasa dan nggak bisa mencium wangi sabun sama sekali, padahal biasanya aku suka banget wanginya. Terus wangi conditioner-ku juga nggak ada. Biasanya nyengat banget dan ini nggak kecium apapun.”
Cerita salah satu pasien dalam laman media sosialnya. Gejala tersebut disebut sebagai anosmia dan menjadi salah satu yang patut diwaspadai sebagai gejala infeksi Covid-19 saat ini.
Anosmia adalah hilangnya seluruh kemampuan penghidu sedangkan hipoanosmia merupakan hilangnya sebagian kemampuan penghidu.
L.A. Vaira dalam tulisannya Potential Pathogenesis of Ageusia and Anosmia in COVID-19 Patients (2020) menyebutkan ACE2 ditemukan pada lapisan mukosa hidung dan berperan dalam proses infeksi Covid-19.
Protein S (spike) pada virus akan berikatan dengan reseptor ACE2 yang ada pada mukosa hidung.
Virus yang aktif merusak jalur sinyal penghidu menyebabkan kelumpuhan fungsi saraf penghidu.
Hal yang serupa diungkapkan oleh Xiangming Meng dalam tulisannya COVID-19 and Anosmia: A Review based on Up-to-Date Knowledge dimana sasaran infeksi SARS-CoV2 terutama sel pertahanan tubuh (sel goblet dan silia) pada hidung dan tenggorok yang memungkinkan terjadinya penularan melalui cairan hidung dan tenggorok serta menimbulkan gejala anosmia.
Hidung dan lidah ibarat cincin dan permata yang keberadaannya saling melengkapi dalam tubuh manusia.
Bau yang dideteksi oleh kemoreseptor pada langit-langit rongga hidung (epitel olfaktori) diteruskan melalui sel saraf kepada pusat bau di otak sehingga dapat dikenali tubuh.
Demikian juga dengan papila-papila yang tersebar dipermukaan lidah.
Papila ini mengandung kemoreseptor yang peka terhadap stimulus senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap 5 jenis rasa (manis, asam, asin, pahit dan umami) dan kemudian meneruskan sinyalnya ke pusat rasa di otak melalui sel saraf.
Sehingga saat ada aroma makanan yang tercium, rangsangannya akan diterima oleh reseptor olfaktori di hidung dan kemudian diteruskan kepada pimpinan tubuh, yakni otak.
Ketika baunya telah dikenali, otak akan mengirimkan sinyal pada lidah tentang rasa yang cocok untuk bau tersebut.
Kerja sama ini akan berlangsung baik saat hidung dan lidah menjalankan tugasnya dengan baik, namun jika indera pembau bermasalah, aroma makanan tidak akan dapat dideteksi dan diteruskan ke otak sehingga lidah tidak menerima pesan dari rasa makanan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hidung_20180713_143705.jpg)