Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dewan Ingatkan Koster Soal Perbaikan Pura Besakih yang Tersambar Petir

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali mengingatkan Gubernur Bali, Wayan Koster untuk memperhatikan kori agung (pintu utama) Pura Agung

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Bendesa Adat Besakih Jero Mangku Widiartha saat ditemui awak media usai mengikuti konsultasi publik mengenai program penataan kawasan suci Pura Besakih di Wantilan Pura Besakih, Kamis (7/11/2019) 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali mengingatkan Gubernur Bali, Wayan Koster untuk memperhatikan kori agung (pintu utama) Pura Agung Besakih yang kepalanya (murda) rusak akibat tersambar petir.

Hingga saat ini belum ada tindak lanjut penanganan atau perbaikan terhadap murda kori agung Pura Besakih tersebut.

"Mohon agar dilakukan perbaikan sesegera mungkin," kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali, I Wayan Rawan Atmaja saat membacakan pandangan umum fraksi-fraksi DPRD Bali mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan Kedua atas Perda Nomor 10 tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah dalam rapat paripurna DPRD Bali, Senin (19/10/2020).

Baca juga: Pendongeng Internasional Brandon Spars Ajari Guru-guru Bali Menulis Cerita Anak

Baca juga: 9 Siswa SMK Widiatmika Terpilih Dapatkan Pendampingan Langsung Dalam Materi Praktik

Baca juga: DPRD Bali Minta Gubernur Koster Beri Rapid Dan Swab Test Gratis Untuk Masyarakat

Menurutnya, Peristiwa murda kori agung Pura Besakih yang tersambar petir merupakan cihna (tanda) cuntaka (kotor) yang berdampak buruk terhadap Gumi Bali dan isinya.

Setelah pemugaran selesai, Rawan meminta Koster agar dilanjutkan dengan ritual upahayu jagat untuk nyomia gering agung yang telah menimpa gumi Bali.

Diberitakan Tribun Bali sebelumnya, Gelung Agung paling atas (Mudra) di bangunan utama Pura Besakih di Karangasem, Bali, roboh disambar petir, Sabtu (28/3/2020) sekitar pukul 14.00 Wita.

Baca juga: Empat Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Jembrana Telah Sembuh dan Dipulangkan

Baca juga: Perkembangan Terkini: Sebanyak 1.620 Relawan Telah Disuntik Calon Vaksin Covid-19

Baca juga: Delapan Kali Berturut-Turut, Banyuwangi Pertahankan Opini WTP

Salah satu Jro Mangku di Pura Besakih, Jro Mangku Widiarta mengaku saat ini para prajuru di Pura Besakih sedang melaksanakan rapat untuk membahas tindak lanjut pascarobohnya Gelung Agung tersebut.

"Gih yakni wau roboh disambar petir jam kalih (Ya benar baru roboh disambar petir jam 2 siang). Mangkin titiang kari rapat paruman sareng prajuru sami (Sekarang saya sedang rapat dengan pihak terkait)," kata Jro Mangku Widiarta saat dihubungi Tribun Bali melalui sambungan telepon.

Jro Mangku Widiarta menuturkan, Gelung Agung atau mudra yang tersambar petir itu tepat ada di pemedalan utama mandala Pura Besakih.

Baca juga: Polisi Tetapkan 131 Tersangka Perusakan Fasilitas Publik Saat Demo Tolak UU Cipta Kerja di Jakarta

Baca juga: Pemerintah Pusat Cairkan Hibah Pariwisata untuk Bali, Cok Ace: Sangat Berarti Sekali

Baca juga: Setelah Ikut Demo Tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja Positif Covid-19, Daerah Ini Terbanyak

Jro Mangku belum bisa menilai apakah ini ada pertanda atau pesan dari robohnya Gelung Agung ini atau tidak.

"Tiang tidak bisa mengatakan apa-apa dulu soal itu. Sebab itu harus disepakati di paruman dulu setelah minta petunjuk," katanya.

Jro Mangku pura besakih, Jro Mangku Widiarta mengatakan, Gelung Agung paling atas (Mudra) di Utama Mandala Pura Besakih yang roboh tersambar petir ternyata memiliki usia yang cukup tua.

Baca juga: Setelah Ikut Demo Tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja Positif Covid-19, Daerah Ini Terbanyak

Baca juga: Tinggalkan Jakarta, Berikut Artis Ibukota yang Memilih Pindah ke Bali Sepanjang Tahun 2020

Meski tak tahu pasti, namun jro mangku besakih menduga bangunan itu dibangun sejak tahun 80-an silam.

"Yening nike titiang nenten sanget uning (Saya kurang tahu). Perkiraan sekitar tahun 80-an dibangun," ujar Jro Mangku Widiarta. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved