Serba serbi

Tak Perlu Mahal, Ini Banten dan Rentetan Upacara Ngaben di Bali

Ngaben adalah upacara yadnya yang dilakukan di Bali, saat ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia.

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmita, menjelaskan dengan rinci prosesi dan banten upacara ngaben di Griya Agung Sukawati, Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ngaben adalah upacara yadnya yang dilakukan di Bali, saat ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia.

Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmita, menjelaskan dengan rinci seperti apa prosesi dan banten dari upacara ngaben ini.

Tribun Bali berkesempatan berkunjung langsung bertemu pandita, di Griya Agung Sukawati, Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar.

Makna filosofis ngaben, kata dia, intinya adalah pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta ke alam asalnya. 

Unsur-unsur tersebut, adalah pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa.

Baca juga: Begini Percakapan Kerabat Jokowi dan Eko sebelum Dihantam Linggis dan Dibakar

Baca juga: Termasuk Pemelepeh Pemahayu Jagat, Berikut Ini Ritual Penanganan Covid-19 di Bali

Baca juga: Tenaga Medis dan Non-Medis di Bali Terima Insentif, Berikut Ini Jumlah Nominalnya Per Bulan

Ini unsur yang ada di dalam tubuh.

“Misalkan unsur pertiwi, tulang belulang kita. Apah cairan yang ada dalam tubuh, darah dan sebagainya. Teja, adalah panas badan, lalu bayu tenaga dan gerakan kita (prana), dan akasa ruang hampa dalam tubuh kita,” jelasnya, Senin (26/10/2020).

Ini dalam tubuh kita, dikembalikan ke unsur makrokosmos seperti ke tanah, air, akasa, dan seterusnya.

Inilah yang menjadi inti pokok saat seseorang meninggal, menurut kepercayaan Hindu Bali.

Ia menjelaskan, ada banyak sastra Hindu yang memuat tentang pengabenan. Kemudian jenis pengabenan itu, mulai dari utama, madya, hingga nista.

Baca juga: Update Covid-19 Kota Denpasar, Kasus Sembuh Bertambah 6 Orang, Kasus Positif Bertambah 22 Orang

Baca juga: 39 Ribu Peserta JKN KIS di Buleleng Nunggak Iuran, BPJS Kesehatan Beri Relaksasi

Baca juga: Tim Ops Yustisi Temukan Pelanggar Prokes, 18 Orang di Sesetan Denpasar & 7 Orang di Kuta Selatan

“Banten pokok dalam pe ngabenan ini, intinya tarpana saji seperti bubur pirata, tunjung putih-kuning, banten rare, ini harus ada,” tegasnya. Begitu juga ada penebusan, cukup pada saat ngaskara atau proses pembersihan di dalam tubuh seseorang pada saat meninggal. Agar leluasa bisa diterima setelah dibersihkan agar bisa diterima di alam unsur kecil dan besar.

Ia menegaskan tidak perlu banyak banten, intinya adalah lengkap sesuai dengan sastra agama.

“Kalau ngaben inti itu cukup hanya suci, di Pura Dalem menghaturkan banten suci asoroh. Di Prajapati menghaturkan suci asoroh, dan pejati bilang bucu ini pokoknya,” sebutnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved