Wiki Bali
WIKI BALI - Mengenal Lebih Dekat Banten dan Rentetan Upacara Ngaben di Bali
Jika masyarakat tidak memiliki dana yang besar untuk banten yang besar, cukup dengan banten pokok saja agar upacara pengabenan puput atau selesai
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti | Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Lebih besar ada bebangkit, sebagai upasaksi satu, di pengaskaran satu, dan ada lagi di beberapa tempat.
Baca juga: Polda Bali Belum Tetapkan Tersangka Dugaan Kasus Penganiayaan Senator AWK
Baca juga: Spider Wan Buka Suara Terkait kelanjutan Kontraknya Pasca Liga 1 dan 2 Musim 2020 Ditunda
Baca juga: 6 Cara Mudah untuk Mencegah Sakit Punggung
Baca juga: KSBSI Serukan Sektor yang Masih Menikmati Keuntungan Selama Pandemi Naikkan Upah Minimum 2021
“Dalam lontar-lontar di Bali, tidak harus menggunakan lembu, atau singa dengan piranti minimal 3 bebangkit,” tegasnya.
Jika masyarakat tidak memiliki dana yang besar untuk banten yang besar, cukup dengan banten pokok saja agar upacara pengabenan puput atau selesai.
Ia mengingatkan, jangan sampai banten pengabenan ini hanya untuk menunjukkan eksistensi atau gaya-gayaan saja.
“Kalau pamer dalam upacara yadnya itu, namanya yadnya yang bersifat Rajasika,” jelasnya.
Namun harus sesuai dengan yadnya, yang ikhlas dan tulus suci dalam mengantarkan roh atma ke tempat asalnya.
Sesuai dengan upakara inti yang sesuai sastra agama Hindu di Bali. Begitupun dengan bade, pembuatannya harus dengan asta kosala kosali wadah.
Apalagi zaman sekarang, ada pula yang memudahkan dalam upacara pengabenan, yakni dengan ngaben di krematorium. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sejumlah-warga-mengiringi-arak-arakan-keranda-hias-yang-berisi-jenazah-tokoh-puri-kawan-kesiman.jpg)