Pertunjukan Sakral Dipentaskan, Tampaksiring Gelar Caru Ruwat Gumi untuk Netralisasi Covid-19
Masyarakat Bali sampai saat ini masih meyakini bahwa pandemi Covid-19 ini merupakan salah satu gering agung atau bencana besar secara sekala dan niska
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
"Di Bali kami meyakini apapun itu pasti dilihat dua sudut pandang. Sekalanya pemerintah keluarkan kebijakan dan penanganan para korban virus. Maka kita juga perlu menyeimbangkan penanganannya dalam bentuk niskala atau upacara," tandasnya.
Lebih lanjut dikatakannya, menurut lontar tua, dalam hal ini Penurgan Dalem Tungkup.
Disebutkan, pada masa pandemi, umat wajib melakukan upacara yang bertujuan untuk nolakbaya atau nangluk merana.
Karena itu, upacara Ruwat Gumi ini akan dilakukan pada dua titik, yakni di perempatan agung atau catuspata dan di wates atau perbatasan.
Baca juga: Bupati Artha Kembali Serahkan Bantuan Sosial DID di Kecamatan Negara
Baca juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini, BMKG 24 November 2020, Bandung Hujan Petir, Jakarta dan Denpasar Berawan
"Perempatan agung simbol semesta. Catuspata berdampingan dengan Puri, dalam sistem kosmologi, Puri istananya Dewa. Perempatan pasar adalah simbol alam semesta. Jadi dalam kosmologi, perempatan simbol alam. Karena Yadnya diperuntukkan bagi alam semesta keseluruhan," tandasnya.
Terkait pementasan seni sakral, satu di antaranya, Sang Hyang Jaran, ia mengatakan, tarian ini merupakan tarian kuno yang diwariskan leluhur Bali.
Di mana tarian sering dibawakan untuk mengusir grubug.
"Karena ada aturan pemerintah terkait prokes. Maka kami tidak mungkin buat fragmen nedunang sesuhunan di Pura Kahyangan Tiga, karena dampaknya masyarakat berkerumun banyak. Maka dari itu, kami akan nuwur tirta, semua tirta suci di wilayah Tampaksiring akan dikumpulkan sebagai sarana pembersihan alam semesta," tandasnya.
Upacara inj akan digelar pada pukul 16.00 sampai pukul 18.00 wita. Selama prosesi berlangsung, arus lalu lintas akan dialihkan. (*)