Pertunjukan Sakral Dipentaskan, Tampaksiring Gelar Caru Ruwat Gumi untuk Netralisasi Covid-19
Masyarakat Bali sampai saat ini masih meyakini bahwa pandemi Covid-19 ini merupakan salah satu gering agung atau bencana besar secara sekala dan niska
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Masyarakat Bali sampai saat ini masih meyakini bahwa pandemi Covid-19 ini merupakan salah satu gering agung atau bencana besar secara sekala dan niskala.
Berbagai upacara keagamaan pun telah dilakukan, baik oleh Pemprov Bali, Pemkab/kota Bali.
Terbaru, upacara yang disebut Caru Ruwat Gumi Nangkuk Merana Agung atau membersihkan dunia ini, digelar krama Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Rabu (25/11/2020) ini.
Upacara besar tersebut akan dilakukan di Bencingah Puri Agung Tampaksiring.
Baca juga: Aksara Bali pada Tulisan Alun-alun Gianyar Keliru, Jika Dibaca Jadinya Gihanyar
Baca juga: Ini Sosok Komandan Paspampres yang Baru Dilantik oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto
Baca juga: Perubahan: Pilih Cara Radikal Atau Incremental?
Informasi dihimpun, Selasa (24/11/2020), dalam prosesi ini, sejumlah pertunjukan sakral pun akan dipentaskan.
Mulai dari tarian barong rangda, wayang sudhamala, topeng sidakarya, pusaka gong beri, genta kebo gladag dan pementasan Sang hyang Jaran.
Penggagas kegiatan, Ida Bagus Made Bhaskara membenarkan hal tersebut.
Kata dia, upacara besar ini khusus dilakukan dengan harapan pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir. Sebab selama pamdemi ini, kondisi umat manusia memperihatinkan, selain karena penyakit yang menular, hal ini juga berdampak pada perekonomian secara global.
Baca juga: Kapolres Bangli Imbau Wujudkan Pilkada 2020 Kabupaten Bangli yang Aman, Lancar, dan Sehat
Baca juga: Sidak Masker di Pasar Mengwi, 4 Pelanggar Prokes Dikenakan Denda Rp 100 ribu
Baca juga: Sasar Kendaraan Dinas TNI AD, Denpom IX/3 Denpasar Gelar Operasi Gaktib dan Kampanye Pakai Masker
"Niki (ini) acaranya disebut Ruwat Bumi Nangluk Merana Agung. Ini berkaitan dengan pandemi global Covid-19," ujarnya.
Terkait kenapa upacara ini diyakini harus dilakukan di Tampaksiring, kata dia, berdasarkan sejumlah catatan sejarah, Tampaksiring merupakan Ibu Kota tertua di Bali.
Hal ini juga dikuatkan dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah masa lampau.
Mulai dari Pura Tirta Empul, Pura Gunung Kawi, dan sebagainya. Tak hanya itu, pria yang juga pembina Pasraman Dharmasila Tampaksiring ini juga mengatakan, Tampaksiring sebagai orientasi spiritual.
Baca juga: Profil Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, Sosok Pangdam IX/Udayana yang Dekat dengan Judo & Pertanian
Baca juga: Razia Masker di Pemecutan Kelod Denpasar, Jaring 32 Orang Pelanggar
Baca juga: Jadwal Belajar dari Rumah di TVRI Selasa 24 November 2020, Ada Tayangan Sekolah di Era Baru
Digelarnya upacara ini, kata dia, dikarenakan pandemi ini diyakini bukan hanya permasalahan sekala. Tetapi juga niskala.
Dalam penanganan secara sekala, telah dilakukan pemerintah dalam bentuk aturan, yakni 3M (mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker).
Sementara dari segi niskala dilakukan dengan upacara.