Komunitas Tanam Saja Gelar Sekolah Lapangan Pembuatan Pengendali Hama Alami
Tak hanya pembagian benih, Komunitas Tanam Saja juga melaksanakan sekolah lapangan untuk melakukan perawatan kebun.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Tak hanya pembagian benih, Komunitas Tanam Saja juga melaksanakan sekolah lapangan untuk melakukan perawatan kebun.
Salah satunya yakni pembuatan pengendali hama nabati.
Sekolah lapangan pembuatan pengendali hama nabati diadakan di Kebun Terangkila, Singaraja, Bali.
Dari rilis yang diterima Tribun Bali, Rabu (25/11/2020), Terangkila merupakan kebun yang dibangun dari inisiatif para pemuda di Singaraja, baik itu mahasiswa maupun pelajar.
Baca juga: Ambil BST di Kantor Pos Cabang Semarapura, Warga Abaikan Jaga Jarak
Baca juga: Daya Beli Masih Rendah, 40 Persen Pedagang di 16 Pasar di Denpasar Nunggak Sewa Kios hingga BOP
Baca juga: Update Pengurangan Libur Cuti Bersama Desember 2020, Ini Penjelasan Menko PMK
Pada awalnya kebun ini hanya menjadi pengisi waktu luang di kala pandemi Covid-19, namun lambat laun, Terangkila semakin membantu memenuhi kebutuhan pangan para pengurusnya dan juga warga sekitar kebun.
Roberto Hutabarat sebagai pakar dari Tanam Saja mengatakan, terdapat tiga kategori pengendali hama nabati yaitu ringan, menengah, dan tinggi.
Pada pengendali hama ringan ini, tidak diperlukan proses fermentasi dan hanya direndam.
Pengendali hama menengah dapat menggunakan daun intaran dan daun sirsak yang dihancurkan dan difermentasi selama sehari, sedangkan untuk kategori tinggi dapat menggunakan tembakau.
Pembuatan pengendali hama ringan dalam sekolah lapang tersebut menggunakan serai, bawang putih, dan jeruk nipis.
Alasan dari penggunaan ketiga bahan tersebut karena melihat karakter dari hama serangga yang memiliki penciuman tajam, hal ini membuat hama akan terganggu dengan aroma menyengat dan keras.
Proses pembuatannya, ketiga bahan kemudian dihaluskan secara terpisah, direndam air lalu disaring dan disemprotkan bergantian setiap tiga hari.
“Waktu penyemprotan yang sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Pada setiap penyemprotan, atau setiap tiga hari sekali pengendali hama yang digunakan harus berbeda agar hama tidak mudah resisten,” kata Roberto.
Meskipun pengendali hama nabati tersebut alami dan organik, namun tetap mengeluarkan senyawa-senyawa kimia yang bila digunakan tidak sesuai takarannya akan berbahaya bagi tanaman maupun binatang lainnya.
Selain itu hama juga lambat laun akan resisten, sehingga pengendali hama nabati tidak mampu lagi mengendalikan hama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelaksanaan-sekolah-lapangan-tentang-pembuatan-pengendali-hama-alami.jpg)