Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Tabanan

Petani di Tabanan Mulai Lirik Budidaya Porang, Manfaatkan Lahan Tidur hingga Tembus Pasar Ekspor

 Budidaya porang di Tabanan kini cukup menggeliat dan ada di seluruh wilayah, terlebih sejak masa pandemi Covid-19.

Tayang:
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
Suasana di salah satu kebun porang di Kabupaten Tabanan, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Sejumlah petani di Tabanan kini mulai melirik tanaman porang.

 Budidaya porang di Tabanan kini cukup menggeliat dan ada di seluruh wilayah, terlebih sejak masa pandemi Covid-19.

Sebab, selain memanfaatkan lahan tidur, budidaya porang ini bisa digarap secara tumpang sari.

Selain itu, petani juga tertarik dengan hasilnya yang sudah menembus pasar ekspor.

Baca juga: Manfaatkan Lahan Minim, Kota Denpasar Terapkan Sistem Yumina-Bumina untuk Perkebunan dan Budidaya

Ketua DPC Perkumpulan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Tabanan, Putu Yasa menuturkan, sejatinya budidaya porang ini sudah ada sejak tahun 2006 lalu di Tabanan.

 Hanya saja saat itu, tanaman porang masih dalam keadaan bebas atau hidup bebas tanpa perawatan.

Selain itu, hasilnya juga sulit diterima karena belum ada pasarnya.

 Sehingga, budidaya porang sempat vakum di Tabanan.

Hingga akhirnya sejak beberapa tahun lalu, budidaya porang ini kembali menggeliat.

Sebab, selain sudah memiliki pasar yang jelas, tanaman ini juga tak sulit perawatannya.

Terlebih lagi pada masa pandemi, geliat petani untuk budidaya porang semakin bertambah.

Sedikitnya, sudah ada 50 orang petani yang masuk sebagai anggota perkumpulan petani porang di Tabanan.

"Hingga saat ini sudah ada sekitar 50 orang yang jadi anggota di Tabanan.

Dari jumlah itu, tersebar di semua wilayah. Tapi untuk luasannya kami masih lakukan pendataan karena setiap petani memiliki luasan lahan yang berbeda.

Baca juga: Putu Mulyadi Raup Omset Hingga Ratusan Juta Dari Budidaya Lidah Buaya

 Satu orangnya bisa memiliki 3 hektare, bahkan hanya 5 are atau 20 are juga ada," kata Putu Yasa sembari mengatakan yang petani yang paling banyak budidaya adalah di wilayah Kecamatan Selemadeg Barat mencapai puluhan hektare.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved