Breaking News:

Berita Klungkung

Harga Daging Babi Tinggi, Butuh Waktu Setahun Untuk Pulihkan Peternakan Babi di Klungkung Bali

"Jangan sampai longgar mendatangkan babi dari luar daerah, justru kembali membawa virus ASF, dan membuat rugi peternak lokal" ungkapnya. 

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Noviana Windri
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Seorang peternak di Klungkung sedang membersihkan kandang babi miliknya belum lama ini. Perlu waktu setahun bagi peternak untuk mengembalikan kondisi peternakan babi, pasca wabah ASF. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Harga daging babi di Klungkung masih stabil di harga tinggi, akibat dari pandemi virus ASF (african swine fever) yang menyerak ternak babi warga dui Bali pada awal tahun 2020 lalu.

Dinas Pertanian Klungkung pun menyebutkan, masih butuh waktu sekitar setahun, agar kondisi peternakan babi di kembali normal. 

Berdasarkan pantauan harga daging babi dari Bagian Perekonomian Pemkab Klungkung, harga daging babi di Klungkung terpantau mengalalami peningkatan bertahap sejak bulan Juli tahun 2020.

Awal Juli harga daging babi masih berkisar Rp60 ribu sampai dengan Rp65 ribu per kilogramnya. Kondisi ini nanaipada akhir Juli menjadi Rp75 ribu per kilogram. 

Sejak saat itu harga daging babi tidak pernah kembali normal, bahkan cenderung terus mengalami kenaikan hingga saat ini harganya mencapai kisaran Rp90 ribu per kilogram. 

Baca juga: Penjual Sate Babi dan Siobak Stres, Harga Daging Babi di Bali Tembus Rp. 100 Ribu

Baca juga: Harga Daging Babi di Bali Terus Melambung Naik Hingga Tembus Rp 90 Ribu

Baca juga: Stok Menipis, Harga Daging Babi Meroket Hingga Rp 20 Ribu Per Kilo di Buleleng Bali

" Ada berbagai faktor yang menyebabkan tingginya harga daging babi. Yakni Harga bibit dan pakan mengalami peningkatan harga, juga karena peternak tidak berani beternak dalam skala besar," ujar Kasubag Perekonomian Pemkab Klungkung, Tjokorda Istri Agung Wiradnyani, Selasa 26 Januari 2020.

Kondisi ini juga merupakan imbas lanjutan dari virus ASF (african swine fever) yang menyerang ternak babi warga di Bali pada awal tahun 2020 lalu.

Sehingga peternak masih khawatir untuk memelihara ternak babi dalam jumlah banyak. 

Sementara Kepala Dinas Pertanian Klungkung Ida Bagus Juanida mengungkapkan, tingginya harga daging babi dipasaran merupakan fenomena mekanisme pasar. Dimana saat ini populasi ternak babi, mengalami penurunan cukup signifikan pasca virus ASF. 

Belum lagi pasca merebaknya virus ASF, Pemerintah Provinsi Bali juga tidak bisa sembarangan dalam mendatangkan babi dari luar pulau. 

"Pasca merebaknya virus ASF, tentu lalu lintas ternak babi antar pulau masih diperketat.  Jangan sampai longgar mendatangkan babi dari luar daerah, justru kembali membawa virus ASF, dan membuat rugi peternak lokal" ungkapnya. 

Menurutnya  saat ini para peternak sedang kembali berjuang memulihkan kondisi, setelah ternak mereka banyak mati dan alami kerugian akibat virus ASF.

Setidaknya dibutuhkan waktu lebih dari setahun, untuk mengembalikan kondisi peternakan babi kembali normal. 

" Tidak serta merta kondisi bisa normal. Setidaknya butuhkan waktu setahun lah, untuk peternak recovery mengembalikan populasi babi. Peternak butuh waktu untuk penggemukan, atau membesarkan indukan untuk kembali berkembang biak," jelasnya.

Baca juga: Jelang Galungan Harga Daging Babi dan Ayam di Badung Meningkat

Baca juga: Harga Daging Babi Mulai Merangkak Naik, Diprediksi Tembus Rp 40 Ribu Per Kilogram Saat Galungan

Baca juga: Cara Membedakan Daging Sapi dan Daging Babi, Aromanya Gak Bisa Bohong

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved