Berita Tabanan
Peternak Tabanan Bali Kesulitan Cari Bibit Babi, Dampak ASF Stok Bibit Terus Menipis
Para peternak babi di Kabupaten Tabanan kini mulai merintis kembali usahanya. Namun ketersediaan bibit babi yang lebih dikenal dengan nama kucit
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Para peternak babi di Kabupaten Tabanan kini mulai merintis kembali usahanya.
Namun ketersediaan bibit babi yang lebih dikenal dengan nama kucit justru masih belum memenuhi kebutuhan karena dampak ASF tahun lalu.
Sehingga, para peternak yang kini masih memiliki babi akan berusaha menguatkan kembali proses indukan.
Menurut salah satu Peternak Babi di Tabanan, I Nyoman Ariadi, kondisi kekurangan bibit babi di Tabanan sudah dialami sejak tahun lalu atau pasca ASF menyapu bersih peternakan di Bali.
Sejak saat itu, banyak peternak yang memilih vakum sementara karena takut merugi lebih banyak.
• Diduga Induk Babi Mati Terserang Virus ASF, Peternak Babi di Karangasem Ngeluh Sulit Dapat Bibit
• Meski Harga Daging Babi Mahal di Pasaran, Peternak di Klungkung Bali Tak Berani Pelihara Babi Banyak
• GUPBI Bali Akui di Lapangan Tidak Semua Peternak Bisa Terapkan Biosecurity
"Intinya saat ini para peternak masih kesulitan mencari bibit babi untuk dikembangkan. Itu karena jumlah bibit tak sesuai dengan permintaan karena sebelumnya disapu bersih oleh virus yang dikatakan ASF tersebut," kata Ariadi saat dikonfirmasi, Jumat 29 Januari 2021.
Dia melanjutkan, selama ini sebenarnya banyak sekali masyarakat yang memang berprofesi sebagai peternak hendak kembali mencoba usahanya, terlebih menjelang perayaan Hari Raya Galungan.
Namun persediaan bibit masih jauh dibandingkan kebutuhan.
• Peternak di Badung Masih Trauma Pelihara Babi dalam Skala Besar, Pemkab Sarankan Metode Biosecurity
• Permintaan Lesu, Peternak Ayam Potong di Klungkung Turunkan Jumlah Bibit
• Peternak Ayam Petelur di Desa Taman Badung Mengaku Tak Terdampak Pandemi Covid-19
Banyak faktor penyebabnya karena terserang virus ASF, kemudian bibit menjadi langka, dan terakhir adalah harga bibit yang mahal.
"Sementara bibit yang ada kan di wilayah Bangli dan Gianyar. Semoga sih mereka para peternak yang mulai mencoba tak terkena musibah seperti sebelumnya sehingga nantinya populasi hewan kaki empat ini mulai tumbuh lagi di Bali," harapnya.
Disinggung mengenai mendatangkaan bibit babi dari luar Bali, Ariadi menyatakan untuk mendatangkan bibit dari luar pasti akan memberikan dampak positif dan negatif.
Jika dilihat dari dampak negatif, kemungkinan besar risikonya adalah tertular virus ASF lagi di Bali.
Sebab, di luar wilayah Bali seperti di Jawa Barat virus ini sedang marak terjadi.
Jika mendatangkan bibit dari luar Bali dengan kondisi terpapar virus tersebut, praktis akan menular ke ternak yang sudah ada di Bali.
"Termasuk juga daging yang terkontaminasi virus ini dicurigai atau kemungkinan diselundupkan ke Bali lagi lewat kendaraan besar."
"Sebab di Bali virus itu sementata diperkirakan masih ada karena saat ini ternak di Bali selalu saja ada yang mati dengan ciri-cirinya juga mendekati virus ASF yang sempat terjadi tahun lalu tersebut," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/peternak-babi_20171027_181357.jpg)