Breaking News:

Berita Badung

Harga Cabai Melonjak, Dinas Pertanian dan Pangan Badung Harap Masyarakat Tanam Cabai di Rumah

Belakangan ini di tengah pandemi Covid-19 harga cabai kian melonjak.Bahkan khusus di Kabupaten Badung, harga capai sempat tembus sampai di angka Rp90

Istimewa
Kadis Pertanian dan Pangan I Wayan Wijana menyerahkan bibit cabai kepada Kepala Sekolah dan Bendesa Adat sebagai percontohan dalam kegiatan Matanabe dan Sibertani, Kamis 4 Februari 2021 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Belakangan ini di tengah pandemi Covid-19 harga cabai kian melonjak.

Bahkan khusus di Kabupaten Badung, harga capai sempat tembus sampai di angka Rp90.000 per/kg.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan kabupaten Badung pun menyarankan semua masyarakat menanam cabai di pekarangan rumah masing-masing.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Bank BPD Bali dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Badung meluncurkan program Masyarakat Tanam Cabai (Matanabe) dan Siswa Belajar Bertani (Sibertani).

Wajar Harga Cabai Rawit Mahal, Petani Sudah Rugi Selama Dua Musim Tanam

Harganya Mahal di Bali, Pola Konsumsi Masyarakat Perlu Diperbaiki, Bisa Makan Cabai Rawit Olahan

Harga Cabai Rawit di Denpasar Makin Mahal, Tembus Harga Rp 93 Ribu Perkilogram

“Program ini dilakukan untuk  mengantisipasi gejolak harga cabai akibat turunnya produksi dan lemahnya alur distribusi,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung I Wayan Wijana saat meluncurkan program tersebut dengan menyerahkan bibit cabai secara simbolis kepada masyarakat bertempat di Kantornya pada, Kamis 4 Februari 2021.

Pihaknya mengatakan harga cabai salah satu permasalahan klasik yang dihadapi setiap tahun yang merugikan petani dan memberatkan masyarakat. 

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui kegiatan pengembangan hortikultura dan pengaturan pola tanam, namun belum mampu mengatasi masalah fluktuasi harga cabai tersebut karena faktor produksi dan distribusi.

Harga Cabai di Klungkung Capai Rp 80 Ribu Per Kilogram, Warga: Saya Sampai Tidak Jualan Lawar Lagi

Sederet Fakta Cabai Rawit Putih yang Dicat Warna Merah Lalu Dijual, Setelah Dipegang Cat Mengelupas

“Budidaya cabai memang memiliki risiko tinggi karena sangat rentan terhadap serangan hama khususnya saat musim penghujan. Selain itu membutuhkan modal yang besar sebagai biaya produksi dan harus mendapat pemeliharaan yang serius serta dibutuhkan  penanganan pasca panen yang tepat karena cabai tergolong sayuran mudah busuk,” katanya.

Dalam rangka menjaga ketahanan pangan keluarga di tengah pandemi Covid-19 saat ini, pihaknya bekerja sama dengan BPD Bali melalui program CSR dengan meluncurkan kegiatan Matanabe dan Sibertani.

Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap masyarakat dapat memanfaatkan lahan pekarangan minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jadi masyarakat minimal dipekarang rumahnya menanam cabai, tomat, terong, sayuran dan sebagainya. Sedangkan Sibertani bertujuan untuk menumbuhkan minat para siswa agar tertarik menekuni bidang pertanian sebagai petani milenial,” harapnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, dalam program Matanabe dan Sibertani itu, Desa Adat Dalung dan beberapa sekolah dipilih sebagai uji coba percontohan.

Hal itu dilakukan lantaran daerah tersebut merupakan daerah transisi perdesaan dan perkotaan yang berkembang pesat sangat, sehingga ideal untuk pengembangan urban farming.

“Masing-masing KK diberikan bantuan bibit cabai dan pupuk sebagai stimulus serta akan didampingi para penyuluh pertanian. Jika kegiatan ini berhasil akan dirancang setiap tahun di desa lainnya untuk meningkatkan luas tanam produksi cabai dalam mengantisipasi melonjaknya harga cabai,” tambahnya. (*)

Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved