Breaking News:

Berita Bali

Penduduk Miskin Naik 0,67 Persen, Pandemi Sebabkan Warga Miskin di Bali Jadi 4,45 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Hanif Yahya menyebutkan persentase penduduk miskin di Bali pada September 2020

NET
Ilustrasi - Penduduk Miskin Naik 0,67 Persen, Pandemi Sebabkan Warga Miskin di Bali Jadi 4,45 Persen 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Hanif Yahya menyebutkan, persentase penduduk miskin di Bali pada September 2020 tercatat 4,45 persen, naik 0,67 persen poin dibandingkan dengan posisi Maret 2020 yang tercatat 3,78 persen.

Ia menjelaskan, jumlah penduduk miskin di Bali pada September 2020 tercatat sekitar 196,92 ribu orang, yang artinya bertambah 31,73 ribu orang dibandingkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 yang tercatat sekitar 165,19 ribu orang.

"Selama periode Maret hingga September 2020, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat meningkat dari 3,33 persen pada Maret 2020 menjadi 4,04 persen pada September 2020. Hal yang sama juga terjadi di daerah perdesaan, tercatat persentase penduduk miskin meningkat dari 4,78 persen pada Maret 2020 menjadi 5,40 persen pada September 2020," ujar Hanif Yahya dalam acara press release yang digelar secara virtual melalui YouTube Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali.

Sedangkan untuk Garis kemiskinan tercatat naik sekitar 1,94 persen, dari Rp 429.834,00 per kapita per bulan pada Maret 2020 menjadi Rp 438.167,00 per kapita per bulan pada September 2020.

Baca juga: Penduduk Miskin di Bali Meningkat Akibat Covid-19, Daerah Perkotaan 125,48 Ribu Pedesaan 71,44 Ribu

Baca juga: Jumlah Penduduk Miskin di Bali Bertambah 31,73 Ribu Orang dalam 6 Bulan, Covid-19 Faktor Pertama

Baca juga: World Bank Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI di Kisaran Nol Persen, Penduduk Miskin Naik 8 Juta

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di Bali pada September 2020 tercatat sebesar 0,610, naik 0,086 poin dibanding Maret 2020, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) naik 0,02 poin dari 0,103 pada Maret 2020 menjadi 0,123 pada September 2020.

"Ketimpangan pendapatan di Bali yang digambarkan dengan Gini Ratio tidak berubah dari kondisi Maret 2020, tercatat 0,369 pada September 2020," ujarnya.

Dalam acara tersebut Hanif Yahya menuturkan, metodologi penghitungan kemiskinan yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik, yaitu dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach.

Dan dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.

Menurutnya, Garis kemiskinan itu sendiri dibedakan menjadi makanan dan bukan makanan.

"Garis Kemiskinan Makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita per hari. Sedangkan untuk Garis Kemiskinan Bukan Makanan adalah nilai minimum pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok bukan makanan lainnya," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Karsiani Putri
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved