Breaking News:

Berita Gianyar

Sejak Pandemi, Kerajinan Tenun di Pejeng Kangin Gianyar Bali Mulai Bangkit

Dulunya penenun berjumlah 8 orang, kini meningkat menjadi 60 warga lebih. Melihat keseriusan pemerintah dan animo masyarakat, kami yakin jumlah penenu

TRIBUN BALI/WAYAN ERI GUNARTA
Sejumlah warga tengah membuat kerajinan tenun di Desa Pejeng Kangin, Tampaksiring, Gianyar, Bali, Selasa 23 Februari 2021 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pandemi covid-19 telah membuat masyarakat kembali menggeluti pekerjaan-pekerjaan warisan leluhur.

Selain dalam bidang pertanian, warga juga kembali menggeluti kerajinan tenun.

Seperti yang terjadi di Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Bali.

Perbekel Pejeng Kangin, Gede Purnadi Yoga, Selasa 22 Februari 2021 mengantakan, dulu Desa  merupakan salah satu sentra dan perajin tenun Bali.

Namun saat pariwisata berkembang, dan banyak lapangan pekerjaan di sektor pariwisata yang pendapatannya lebih menjanjikan, banyak warga yang meninggalkan pekerjaan warisan leluhur tersebut.

Baca juga: Gubernur Koster Tinjau Produksi Kain Tenun Endek di Klungkung hingga Dengarkan Permasalahan Pedagang

Baca juga: Klungkung Bali Miliki 3 Jenis Kain Tenun Tradisional, Pemkab Berencana Beri Pelatihan Penenun Lokal

Baca juga: Geliat Tenun Tradisional di Pejeng Kangin, Hidup Lagi Setelah 25 Tahun Mati Suri

Bahkan kata dia, pernah warga yang menggeluti profesi tersebut hanya delapan orang. 

Namun setelah 'badai covid-19', banyak warga yang kena PHK (pemutusan hubungan kerja).

Sejak itu, secara berangsur-angsur warga setempat kembali menggeluti profesi sebagai penenun.

"Dulunya penenun berjumlah 8 orang, kini meningkat menjadi 60 warga lebih. Melihat keseriusan pemerintah dan animo masyarakat, kami yakin jumlah penenun akan bertambah," ujarnya.

Pihaknya pun bersyukur, di tengah banyaknya warga yang kembali menenun, Pemprov Bali mengeluarkan kebijakan memakai kain tenun setiap Selasa. 

"Ini gayung bersambut, saat usaha tenun di desa kami bangkit, pemerintah melalui Gubernur Bali memberikan imbauan mengenakan kain endek sebagai pakaian hari Selasa," ujarnya. 

Namun ia mengungkapkan, usaha tenun yang digeluti warganya lebih dominan pada kain tenun Bali.

"Kalau boleh usul, termasuk mengenakan kain tenun Bali juga diwajibkan," harapnya.

Untuk pemasaran lebih luas, Purnadi Yoga berharap supaya pemerintah ikut memberikan bantuan berupa desain dan motif kekinian agar produksi warga setempat diminati pasar umum. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved