Kesehatan
Ingin Lakukan Diet Low Karbo? Simak Penjelasan dr. Syuma Adhy Awan Berikut Ini
dr. Syuma Adhy Awan., MKes., SpGK selaku Dokter spesialis gizi klinik KSM RSUP Sanglah Denpasar memberikan penjelasan jika ingin melakukan diet low/ve
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Noviana Windri
Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Memiliki ukuran tubuh yang ideal memang merupakan impian bagi setiap orang, terutama pada wanita.
Maka dari itu tak jarang setiap orang pun mengikuti diet untuk menurunkan berat badannya.
Saat ini banyak tren diet yang sudah diikuti oleh sebagian orang.
Salah satunya adalah diet low karbohidrat atau rendah karbohidrat.
dr. Syuma Adhy Awan., MKes., SpGK selaku Dokter spesialis gizi klinik KSM RSUP Sanglah Denpasar memberikan penjelasan jika ingin melakukan diet low/very low karbo pada, Rabu (3 Maret 2021).
Menurutnya memang saat ini sudah banyak tren diet yang diikuti oleh masyarakat namun pada dasarnya kita tidak boleh menghilangkan patokan-patokan kesehatan.
Baca juga: 5 Jus Buah & Sayur Ini Cocok Dikonsumsi untuk Diet dan Efektif Menurunkan Berat Badan
Baca juga: 11 Faktor Penentu Kehamilan Kembar, Genetika, Diet hingga Posisi Seks
Baca juga: Diet Tanpa Konsultasi Diperbolehkan, Asal Perhatikan Dulu Hal Ini
Penurunan berat badan itu harus diimbangi dengan kaidah kesehatan.
Yang artinya gizinya harus tetap seimbang makro dan mikro.
"Contohnya pada orang yang mengalami penurunan berat badan namun ketika melakukan pemeriksaan laboratorium dan dari komposisi tubuh terdiri dari lemak air dan otot, ternyata setelah dilakukan pemeriksaan ototnya ikut turun di bawah normal. Sehingga terjadilah penurunan berat badan yang tidak optimal," ungkapnya.
Saat ini memang diet low karbo ini sedang banyak digandrungi oleh banyak orang.
Diet low karbo ini juga terbagi menjadi moderat dan juga very low karbo dengan asupan karbohidrat diturunkan pada titik ekstrim dibawah 20 gram dan meninggikan asupan lemak menjadi 80 persen kebutuhan harian.
Bahkan agar lebih optimal penurunan berat badan, dibarengi dengan membatasi waktu makan (fasting) sehingga lebih optimal menghabiskan cadangan lemak yang ada dalam tubuh sebagai sumber energi(ketogenesis).
"Sebenarnya teorinya oke, bagus dan bisa dipraktekan namun ketika berbicara mengenai diet very low karbo yang disertai membatasi waktu makan (fasting) tentu tidak bisa digeneralisir pada semua orang. Prinsipnya adalah tubuh manusia merupakan mesin yang sangat sempurna tapi sebagai manusia kita juga harus mengetahui fisiologi yang ada dalam tubuh," tambahnya.
Lebih lanjut ia mengatakan kebutuhan nutrisi untuk tubuh normalnya harus ada komposisi makro dan mikro nutrien.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/diet_20171007_145017.jpg)