Breaking News:

Berita Bali

Perajin Arak di Klungkung Bali Tidak Ambil Pusing Dengan Pencabutan Perpres Investasi Miras

"Kami disini tidak ada yang pengusaha arak yang besar, semua masih tradisional. Kami buat arak paling beberapa botol aja setiap hari, tergantung bahan

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Perajin arak tradisional di Desa Besan, Klungkung. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Pencabutan aturan mengenai investasi industri minuman keras yang tercantum dalam lampiran Perpres 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, tidak membuat para perajin arak tradisional di Klungkung resah.

Menurut mereka, aturan itu hanya akan berdampak bagi pelaku industri miras yang besar, tidak bagi para perajin arak yang kebanyakan masih tradisional. 

Seorang perajin arak asal Desa Besan Klungkung I Ketut Buda menjelaskan, sampai saat ini kebanyakan para perajin arak di Klungkung merupakan perajin tradisional.

Mereka hanya memproduksi arak dan menjualnya dalam jumlah yang sedikit. 

"Kami disini tidak ada yang pengusaha arak yang besar, semua masih tradisional. Kami buat arak paling beberapa botol aja setiap hari, tergantung bahan baku nira yang kami sadap," ungkapnya. 

Baca juga: Jokowi Mencabut Aturan Investasi Miras, Kapolresta Denpasar Mendukung Keputusan Pemerintah

Baca juga: Jokowi Cabut Perpres Investasi Miras, Pelaku Pariwisata: Bali Kehilangan Potensi Ekonomi dari Arak

Baca juga: Produksi Arak Bali Dilegalkan,DPRD Bali Ingatkan Pemerintah Beri Edukasi & Kemudahan Akses Perizinan

Ia pun mengaku tidak ambil pusing, dengan Pencabutan aturan mengenai investasi industri minuman keras yang tercantum dalam lampiran Perpres 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. 

"Itu aturan hanya untuk perusahaan besar. Kalau kami perajin tradisional, ada atau tidaknya aturan tetap jalan seperti ini. Tidak ada imbas berarti," jelasnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Klungkung  I Wayan Ardiasa menjelaskan, sampai saat ini belum ada produsen besar untuk produksi minuman tradisional beralkohol seperti arak atau tuak di Klungkung.

Semua sifatnya masih perajin kecil, yang menjual produknya dalam lingkup kecil. 

"Kami sempat jajaki para perajin arak di Desa Besan dan Dawan Kaler. Saya minta mereka membentuk kelompok, sehingga bisa kami bentuk koprasi untuk mempermudah pemerdayaan mereka. Tapi sampai saat ini belum ada respon dari mereka," ujar Ardiasa, Rabu (3 Maret 2021). 

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved