Breaking News:

Makna Upacara Melasti Sebelum Hari Raya Nyepi Bagi Umat Hindu Bali

Jero Mangku Ketut Maliarsa, menjelaskan bahwa perayaan Nyepi oleh umat Hindu Indonesia diawali dengan melaksanakan melasti

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/Nyoman Mahayasa
Iringan pemedek krama Desa adat kuta saat menggelar Upacara melasti di pantai Kuta, Senin (4/3/2019) dengan latar warna matahari tenggelam. 

Lokasi air-air suci ini, diyakini oleh umat Hindu sebagai air kehidupan atau "Tirta Amerta " sebagai sumber pembersih segala kekotoran (sarwa mala ).

Kemudian mengusung pralingga atau pratima dan perlengkapan bhatara-bhatari ke segara untuk disucikan.

Sebab pralingga dan pratima ini diyakini umat Hindu sebagai lambang atau simbol para dewa-dewi (ini rasa dan keyakinan).

Serta memang demikian ekspresi jiwa/batin para umat Hindu tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Esa.

Di samping itu juga, membawa sesaji atau banten dan alat persembahyangan ke sana.

Sesaji atau bebanten diyakini sebagai wujud persembahan kepada-Nya serta juga dipercaya manifestasi dewa tertinggi yaitu 'Tri Murti' meliputi Bhatara Brahma, Bhatara Wisnu, dan Bhatara Siwa.

"Menurut lontar Sundarigama dan lontar Sang Hyang Aji Swamandala, juga dikatakan melasti itu merupakan wujud peningkatan sradha bhakti para umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan nanifestasi-Nya yang sering disebut bhatara-bhatari dengan tujuan untuk menghilangkan kekotoran atau penderitaan," sebutnya.

Upacara melasti mempunyai tujuan juga untuk memohon waranugeraha, kepada Sang Hyang pencipta beserta isinya agar alam manusia dan alam semesta mencapai keseimbangan.

Sehingga terwujud keharmonisan, kerahayuan, kerahajengan, shanti dan jagadhita.

Selain itu, bertujuan juga untuk menguatkan sradha bhakti para umat Hindu akan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved