Breaking News:

Berita Bangli

Dewan Bangli Apresiasi Penerapan Prokes Ketat Dalam US SMP

Sekretaris Komisi I DPRD Bangli itu menilai, pelaksanaan ujian sekolah tatap muka sudah melalui protokol kesehatan ketat.

ist
monitoring - Anggota DPRD Bangli, Dewa Suamba saat melakukan monitoring di SMPN 2 Bangli. Selasa (30/3) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Pelaksanaan ujian tatap muka jenjang SMP yang digelar mulai hari Senin 29 Maret dinilai sangat efektif.

Hal tersebut diungkapkan anggota DPRD Bangli, Dewa Gede Suamba Adnyana pasca monitoring ke SMPN 2 Bangli dan SMPN 4 Tembuku, Selasa (30 Maret 2021.

Suamba menjelaskan, tujuan utama pihaknya melakukan monitoring adalah untuk mengecek kesehatan, terutama protokol kesehatan kaitannya dengan pelaksanaan ujian sekolah tingkat SMP.

Sekretaris Komisi I DPRD Bangli itu menilai, pelaksanaan ujian sekolah tatap muka sudah melalui protokol kesehatan ketat.

Baik guru maupun siswa pun juga telah dilengkapi alat pelindung diri (APD) ketika berada di dalam kelas. 

Kinerja Bawahan Lebih Kompeten dari Pimpinan OPD, Dewan Bangli Usulkan Assessment Jabatan Pimpinan

Dewan Bangli Targetkan Pembahasan 17 Ranperda Sepanjang Tahun 2021

“Setelah tyang pantau ke lapangan, protokol kesehatan memang benar-benar menjadi perhatian utama dari pihak sekolah. Misalnya sebelum masuk sekolah, siswa wajib cuci tangan dan dites suhu tubuh. Saat istirahat, baik pengawas ataupun siswa tidak boleh keluar kelas. Tujuannya untuk mengantisipasi kerumunan, karena sudah setahun siswa tidak bertemu teman-temannya. Begitupun saat pulang sekolah, siswa keluar per kelas dan wajib langsung pulang kerumah,” jelasnya. 

Suamba menegaskan tidak ada hal-hal yang perlu dievaluasi dalam pelaksanaan ujian sekolah tatap muka ini.

Sebaliknya, Suamba menilai pelaksanaan ujian sekolah tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan ini perlu dipertahankan.

“Mudah-mudahan sampai selesai pelaksanaan ujian ini tidak ada masalah-masalah. Sehingga mampu menjadi landasan untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada tahun ajaran baru,” ujarnya.

Suamba menambahkan, baik orang tua maupun guru, program belajar mengajar PTM lebih efektif ketimbang pembelajaran dengan sistem daring.

Beberapa kendala daring adalah orang tua tidak bisa secara maksimal mengawasi dan mengajari anaknya, sehingga berdampak pada mutu pendidikan.

“Tidak semua orang tua memahami pelajaran anak, karena bukan basic mereka. Selain itu tidak semua orang tua memiliki perangkat selular yang mumpuni, serta gangguan sinyal di beberapa wilayah juga menjadi kendala tersendiri,” jelasnya.

Sebaliknya jika dilakukan PTM, imbuh Politisi asal Desa Abuan itu, tidak hanya orang tua siswa namun guru juga lebih mudah dalam melakukan pemantauan perkembangan anak didiknya.

Dewan Bangli Dukung Langkah Bupati Buat Perda Imbal Jasa Lingkungan

Dewan Bangli Berharap Penanggulangan Virus Corona Tak Sebatas Edukasi

“Penilaian guru kan tidak hanya sebatas aspek pengetahuan (kognitif), namun juga afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Karenanya PTM ini sangat diharapkan tak hanya orang tua namun juga guru-guru,” ucapnya. (adv/mer)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved