Berita Gianyar
Siswa SMPN 1 Ubud Gianyar Meninggal Mendadak, Tidak Punya Riwayat Penyakit Serius
Dewa Gede Juli Artawan (16) mengalami sakit kepala berat saat menunggu jam pembelajaran tatap muka
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
"Saya chat anak saya. Ajik sudah di depan. Disuruh oleh anak saya naik, katanya tidak bisa turun. Saat sampai di atas, saya panik melihat anak saya sudah lemas. Saya tanya, tidak ada jawaban. Langsung saya rangkul bersama temannya ke bawah," ujarnya.
"Saat itu tidak ada guru. Sampai di bawah saya ketemu seorang guru. Akhirnya ibu guru meminjam mobil untuk mengantar ke puskesmas. Perkiraan saya anak saya sudah meninggal di perjalanan. Sebab sampai di puskemas dikasih oksigen, tapi oksigennya tidak memberikan efek. Saya kaget. Anak sehat. Tidak ada gejala apa, kenapa bisa seperti ini," ujarnya.
Dewa Artana mengatakan, polisi menganjurkan untuk dilakukan autopsi untuk mencari penyebab kematian anaknya.
Namun ia menolaknya.
Lagipula, menurut dia, hal itu tidak akan mengembalikan nyawa anaknya.
Malahan ditakuti justru yang terjadi hanya ke arah negatif.
Karena itu, ia pun telah mengikhlaskan kepergian anaknya.
"Dari kepolisian kemarin menganjurkan autopsi. Tapi saya dari pihak keluarga, mengikhlaskan kepergian dia. Kalaupun diautopsi, juga tidak ada apa. Malah lebih banyak hal negatif nantinya.
Karena itu saya ikhlaskan, mungkin segini saja waktu saya bersama dia," ujarnya.
Dewa Artana mengungkapkan ada banyak kejanggalan saat anaknya terakhir kali berangkat ke sekolah, Kamis kemarin.
Mulai dari keinginan memetik bunga cempaka untuk bersembahyang, melambaikan tangan pada anak-anak kecil di jalanan, hingga berpesan agar orangtuanya menjaga anaknya sebaik mungkin.
"Paginya sempat minta cempaka. Digunakan sembahyang. Setiap mau sekolah memang selalu sembahyang. Tapi saat itu, tumben minta cempaka khusus. Katanya itu bagus. Saya disuruh memetikkan dari pohonnya," ujarnya.
Selain itu, saat berangkat sekolah. Mereka juga bertemu anak-anak kecil, yang masih ada hubungannya keluarga.
Saat itu, mendiang menyuruh menghentikan laju kendaraan, lalu melambai-lambakkan tangan tanda perpisahan.
Tak hanya itu, dalam perjalanan, mendiang juga berpesan agar orangtuanya menjaga adiknya sebaik mungkin.
"Saat di perjalanan anak saya berpesan supaya ngeringwang adik. Tumben dia bilang seperti itu. Saya tidak tahu ternyata itu pesan terakhir. Saat jalan sekolah saya sempat disuruh berhenti. Dia dadah dadah sama anak-anak kecil waktu bertemu di jalan," ujarnya.