Breaking News:

Berita Bali

GUPBI Bali Akui Hanya Kabupaten Bangli Yang Tidak Kekurangan Stok Babi Jelang Galungan 2021

menjelang Hari Raya Galungan ini stok semua kabupaten di Bali kecuali, Bangli  dianggap kekurangan stok babi. 

Pixabay
Ilustrasi peternakan babi. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali mengakui stok babi di Bali kini menurun.

Bahkan menjelang Hari Raya Galungan ini stok semua kabupaten di Bali kecuali, Bangli  dianggap kekurangan stok babi. 

Hal itu lantaran, saat adanya virus yang terduga Virus African Swine Fever (ASF) menyerang Bali, hanya Babi di Kabupaten Bangli yang sedikit bisa diselamatkan.

Begitu juga di Badung salah satunya di wilayah Petang dan yang lainnya.

Ketua GUPBI Bali Ketut Hary Suyasa mengatakan saat ini  memang belum banyak peternak yang melaksanakan restocking.

Harga Babi di Pasaran Naik Jelang Hari Raya Galungan, DPRD Bali Dorong Tingkatkan Anggaran

Khawatir Stok Babi Langka di Bali, Jelang Hari Raya Galungan Harga Melonjak

Hanya saja peternak yang melakukan restocking itu yakni yang memelihara sedikit dan tidak menerapkan biosecurity.

"Jadi sampai saat ini saya akui untuk keseluruhan kita kurang stok. Namun khusus di Bangli, rasanya yang tidak kurang lantaran waktu terserang virus disana banyak babi bisa diselamatkan," ungkapnya 8 April 2021.

Kendati demikian pihaknya mengakui, permintaan daging babi kini makin sedikit. Pasalnya selain permasalahan ekonomi harga daging babi kini juga meningkat, sehingga beberapa orang yang bisa menjangkau untuk membeli daging babi.

"Jadi beberapa tahun ini daya beli masyarakat akan daging babi ini sangat lesu. Bahkan jika.dibandingkan dengan Galungan lalu, permintaan juga sepi," katanya.

Untuk saat ini, Hary Suyasa mengakui harga babi hidup yakni Rp 40 ribu sampai 47ribu/kg.

Kendati minim permintaan pada hari-hari tertentu babi memang harus disediakan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan.

"Kalau permintaan banyak, dan babi tidak ada ada kan kacau lagi urusannya. Jadi yang jelas kita di GUPBI berusaha untuk menjaga stabilitas harga. Pasalnya populasi babi kembali normal sampai 3 tahun kedepan," akunya.

Kendati demikian, pihaknya berharap peternak yang ada diharapkan tetap menerapkan biosecurity sehingga bisa menjaga keamanan peternak.

Bahkan pihaknya berharap harga dan populasi babi di Bali kembali normal.

"Untuk kebutuhan saat ini saya kurang hafal detailnya. Yang kelas kita baru melaksanakan restocking. Jadi butuh waktu 3 tahun lagi, agar populasi babi di Bali meningkat," tungkasnya. (*)

Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved