Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Bali Bisa Hancur, Ini Alasan Pulau Bali dan Jawa Tidak Boleh Disatukan

Karamnya kapal selam KRI Nanggala 402 di perairan laut Bali Utara masih menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: M. Firdian Sani
Basarnas
Kapal kargo Cemtex Pioneer. Bali Bisa Hancur, Ini Alasan Pulau Bali dan Jawa Tidak Boleh Disatukan 

Sedangkan Pulau Bali berkarakteristik ke hal-hal kedewataan, sehingga Pulau Bali dijuluki Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, Pulau Sorga dan julukan-julukan lain secara religius spiritual.

Di lain pihak, Bali dalam pariwisatanya mencanangkan pariwisata budaya sehingga terkenal di manca negara.Bahkan dulu Bali lebih populer atau lebih terkenal dari negara Indonesia.

"Sehubungan dengan itu juga, agar Bali tetap ajeg," katanya. Untuk mencapai kemuliaan, kerahayuan jagat, sesuai dengan permohonan Mpu Siddhi Mantra waktu beliau beryoga semadi. Dan yang tidak kalah pentingnya, agar anaknya yang semata wayang yaitu Manik Angkeran tidak bisa segampang dahulu bolak-balik antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali

Sebab Manik Angkeran berjanji mengabdi di Bali kepada Sang Naga Basuki.

Dengan tujuan agar Manik Angkeran bisa mengubah perilaku dari suka berjudi menjadi tidak lagi suka berjudi, dan beliau berhasil  sehingga didiksa dengan gelar Dang Hyang Manik Angkeran. 

Bahkan keturunannya menjadi pemangku di Pura Besakih.

Hal inilah yang menyebabkan Pulau Bali dengan Pulau Jawa tidak bisa disatukan atau tersambung seperti dahulu kala.

Walaupun dengan membuat jembatan atau model jalan tol.

Bahkan diyakini akan berakibat rusaknya karakteristik Pula Bali sebagai Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, dan julukan-julukan kedewataan lainnya yang besifat religius spiritual.

Hingga saat ini, tidak ada yang berani melanggar bhisama yang telah dicanangkan melalui wahyu suci atau pawisik hyang niskala melalui perantara Mpu Siddhi Mantra yang sakti mandraguna itu.

Sebab bila dilanggar Bali bisa hancur atau rusak akibat melanggar bhisama tersebut.

Hal ini diamini Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana.

"Ida Mpu Siddhi Mantra menorehkan tongkatnya lalu menjadi selat Bali, tujuannya agar anak beliau Ida Manik Angkeran tidak bisa lagi ke Jawa dan diminta untuk mengabdi Pura Besakih," jelasnya kembali. 

Setelah menoreh tongkatnya lalu terbentuklah selat Bali.

"Kala itu beliau berkata bahwa Pulau Bali stananing hyang pulau Jawa jayeng satru, ayua angatepkan Jawa lawan Bali rusak ikang stananing hyang. Artinya jika Pulau Bali dengan Jawa menyatu maka Pulau Bali akan rusak atau hancur," sebutnya. (*)

Ikuti berita Bali

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved