Berita Denpasar
Menuju Bali Yang Binal #9, Komunitas Pojok Gelar SawerNite
Komunitas Pojok kembali menghelat hajatan seni "Bali Yang Binal". Namun sebelum menuju puncak perhelatan, Komunitas Pojok terlebih dahulu menggelar
Penulis: Putu Candra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Setiap kali diadakan, Bali Yang Binal selalu mengusung tema yang berbeda, menyesuaikan dengan kondisi riil yang terjadi.
Tema yang diusung Bali Yang Binal #9 adalah "Normal is Boring".
Tema ini diangkat untuk merespons, utamanya ketidaksiapan manusia menghadapi pandemi yang menghantam dunia secara tiba-tiba.
Baca juga: Sebanyak 5.600 Orang dari Komunitas Bandara Ngurah Rai Jalani Vaksinasi Covid-19
"Sebelum pandemi, hampir semua orang ingin menjadi berbeda dengan caranya masing-masing, tidak ada yang ingin sama atau disamakan dengan orang lain. Namun ketika pandemi menghantam, semua orang berjuang dengan caranya untuk kembali menjadi normal," kata Dewa Ketha.
Dalam konteks ini kenormalan dilihat sebagai kondisi di mana nilai-nilai yang ada dalam masyarakat diamini dan dilaksanakan secara kolektif.
Sebaliknya yang tidak normal adalah yang tidak mengikuti nilai-nilai tersebut.
Dalam konteks pemakaian masker misalnya, sebelum pandemi yang diamini sebagai kenormalan adalah hidup tanpa masker, maka pada saat pandemi ini yang diamini sebagai kenormalan adalah hidup dengan masker.
Sebagai nilai baru, kata Dewa Ketha kondisi ini tentu menghadirkan polemik.
Ada kelompok yang berjuang kembali ke pola lama, ada pula yang berjuang untuk berada dan menjalani pola baru.
Dalam hal ini, menjadi kontekstual terlihat tidak normal, karena tidak mengikuti pola lama namun juga tidak mengamini pola baru.
Baca juga: Komunitas Vespa Wanita di Denpasar, Lucia: Mogok adalah Bagian Terseru
"Dalam konteks pemakaian masker misalnya, menjadi kontekstual adalah menggunakan masker pada saat yang tepat, dan tidak menggunakannya juga pada saat yang tepat. Bukan berarti oportunis, tapi lebih menggunakan common sense," ucapnya.
"Menjadi normal itu membosankan, kami berada di luar kotak pendefinisian yang hanya akan menghilangkan kebebasan kami sebagai person-person yang unik dengan cara kami."
"Di luar itu semua kami percaya bahwa kebenaran hanyalah sebuah interpretasi pada suatu kondisi tertentu."
"Sehingga nilai-nilai kenormalan adalah berbeda dalam tiap kondisi. Bisa jadi, normal dalam suatu kondisi adalah tidak normal dalam kondisi lainnya. Tidak ada yang berhak menjadi hakimnya, karena hal seperti itu tidak mudah diputuskan benar dan salahnya," sambung Dewa Ketha.
Namun di tengah kondisi pandemi ini, membuat festival yang sudah berumur lumayan panjang tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Komunitas Pojok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sejumlah-karya-mural-dari-anggota-komunitas-pojok.jpg)