Berita Denpasar
Menuju Bali Yang Binal #9, Komunitas Pojok Gelar SawerNite
Komunitas Pojok kembali menghelat hajatan seni "Bali Yang Binal". Namun sebelum menuju puncak perhelatan, Komunitas Pojok terlebih dahulu menggelar
Penulis: Putu Candra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Komunitas Pojok kembali menghelat hajatan seni "Bali Yang Binal".
Bali Yang Binal (BYB) merupakan acara dua tahunan yang sudah digelar oleh Komunitas Pojok dan kini memasuk edisi ke-9.
Namun sebelum menuju puncak perhelatan, Komunitas Pojok terlebih dahulu menggelar acara "SawerNite".
Acara penggalangan dana ini berlangsung selama seminggu, dimulai pada hari Minggu, 2 Mei 2021, dan ditutup pada hari Sabtu, 8 Mei 2021 bertempat Jalan Sedap Malam, Kesiman, Denpasar.
Baca juga: Komunitas Cinta Kain Bali Gelar Dialog Memperingati Hari Kartini, Teladani Soal Sikap Berbusana
"Dalam setiap gelaran Bali Yang Binal, kami mengawalinya dengan SawerNite, sebuah kegiatan penggalangan dana secara swadaya melalui penjualan karya dari kawan-kawan seniman yang mendukung kegiatan ini."
"Dalam SawerNite kali ini, kami juga mengadakan pemutaran film, diskusi serta ditutup dengan lelang karya dan musik" terang Wahyu selaku anggota Komunitas Pojok, Jumat, 23 April 2021.
Usai SawerNite rangkaian acara akan dilanjutkan dengan mengadakan mural jamming.
Ini sebagai pemanasan sebelum menginjak acara utama, yakni Bali Yang binal.
Dalam SawerNite nantinya dana yang terkumpul akan digunakan membiayai gelaran Bali Yang Binal
"Seluruh dana yang terkumpul nantinya akan digunakan sepenuhnya untuk pelaksanaan Bali Yang Binal #9. Jadi acara kami bikin secara swadaya dan kolektif," ujar Wahyu.
Baca juga: Bertajuk Friday Morning Run, League Gandeng Komunitas Bali Lari 5 Kilometer
Lebih lanjut, untuk tahun ini Bali Yang Binal memasuki edisi ke-9.
Bali Yang Binal dihelat oleh Komunitas Pojok, berawal di medio 2005 ketika Bali Biennalle digelar.
Bali Yang Binal merupakan sebuah respons terhadap pelaksanaan Bali Biennalle yang dirasa sarat nepotisme.
"Bali Biennalle yang menjadi sasaran kritik itu sendiri akhirnya hanya berumur setahun saja. Sedangkan Bali Yang Binal yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali bisa terus bertransformasi hingga kini," jelas anggota Komunitas Pojok lainnya, Dewa Ketha.
Seiring waktu, media berkarya yang digunakan pun mengalami perubahan, dari pameran-pameran konvensional di awal berdirinya hingga kini mengambil mural sebagai media yang dianggap Komunitas Pojok efektif, dan mampu mengembalikan seni pada penikmatnya yang utama yaitu masyarakat atau publik.
Setiap kali diadakan, Bali Yang Binal selalu mengusung tema yang berbeda, menyesuaikan dengan kondisi riil yang terjadi.
Tema yang diusung Bali Yang Binal #9 adalah "Normal is Boring".
Tema ini diangkat untuk merespons, utamanya ketidaksiapan manusia menghadapi pandemi yang menghantam dunia secara tiba-tiba.
Baca juga: Sebanyak 5.600 Orang dari Komunitas Bandara Ngurah Rai Jalani Vaksinasi Covid-19
"Sebelum pandemi, hampir semua orang ingin menjadi berbeda dengan caranya masing-masing, tidak ada yang ingin sama atau disamakan dengan orang lain. Namun ketika pandemi menghantam, semua orang berjuang dengan caranya untuk kembali menjadi normal," kata Dewa Ketha.
Dalam konteks ini kenormalan dilihat sebagai kondisi di mana nilai-nilai yang ada dalam masyarakat diamini dan dilaksanakan secara kolektif.
Sebaliknya yang tidak normal adalah yang tidak mengikuti nilai-nilai tersebut.
Dalam konteks pemakaian masker misalnya, sebelum pandemi yang diamini sebagai kenormalan adalah hidup tanpa masker, maka pada saat pandemi ini yang diamini sebagai kenormalan adalah hidup dengan masker.
Sebagai nilai baru, kata Dewa Ketha kondisi ini tentu menghadirkan polemik.
Ada kelompok yang berjuang kembali ke pola lama, ada pula yang berjuang untuk berada dan menjalani pola baru.
Dalam hal ini, menjadi kontekstual terlihat tidak normal, karena tidak mengikuti pola lama namun juga tidak mengamini pola baru.
Baca juga: Komunitas Vespa Wanita di Denpasar, Lucia: Mogok adalah Bagian Terseru
"Dalam konteks pemakaian masker misalnya, menjadi kontekstual adalah menggunakan masker pada saat yang tepat, dan tidak menggunakannya juga pada saat yang tepat. Bukan berarti oportunis, tapi lebih menggunakan common sense," ucapnya.
"Menjadi normal itu membosankan, kami berada di luar kotak pendefinisian yang hanya akan menghilangkan kebebasan kami sebagai person-person yang unik dengan cara kami."
"Di luar itu semua kami percaya bahwa kebenaran hanyalah sebuah interpretasi pada suatu kondisi tertentu."
"Sehingga nilai-nilai kenormalan adalah berbeda dalam tiap kondisi. Bisa jadi, normal dalam suatu kondisi adalah tidak normal dalam kondisi lainnya. Tidak ada yang berhak menjadi hakimnya, karena hal seperti itu tidak mudah diputuskan benar dan salahnya," sambung Dewa Ketha.
Namun di tengah kondisi pandemi ini, membuat festival yang sudah berumur lumayan panjang tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Komunitas Pojok.
"Untuk itu kami berupaya membuat kegiatan yang seminimal mungkin agar tidak membuat kerumunan. Setelah melalui berbagai pertimbangan maka kami memilih untuk membuat kegiatan dengan konsep Art Camp yang mana akan dipusatkan di Banjar Sampalan, Desa Batununggul, Nusa Penida. Diadakan selama seminggu dari tanggal 10-16 Juni 2021," jelas Dewa Ketha.
Para seniman partisipan pun dibatasi jumlahnya, tidak seperti gelaran Bali Yang Binal sebelumnya, di mana Komunitas Pojok bisa membuka pintu pada banyak seniman yang ingin ikut berpartisipasi di dalamnya.
"Para seniman partisipan akan tinggal di dalam tenda-tenda yang telah dipersiapkan panitia, tinggal di alam terbuka, untuk selanjutnya mengerjakan mural-mural yang tersebar di beberapa titik spot setiap harinya," tutur Dewa Ketha.
Untuk media tembok yang akan dimural pun berjarak antar 1 spot mural ke spot lainnya.
Hal ini juga yang menjadi gelaran kali ini berbeda dari gelaran-gelaran Bali Yang Binal sebelumnya.
Anggota Komunitas Pojok yang akan mengisi gelaran ini adalah Wild Drawing, Slinat, Trinity, [WAR], dan Mr. X. Pula Seniman partisipan yang diundang terlibat di Bali Yang Binal #9 ini diantaranya, MSCT, Mutaseight, PWRK, Tison, Medialegal, Zent Prozent, Midaskid dan Kuncir SV.
Selain itu, selama kegiatan Bali Yang Binal #9 akan diisi dengan kegiatan-kegiatan lain, seperti diskusi, workshop dan lapakan dari komunitas-komunitas yang berjejaring dengan Komunitas Pojok.
"Segala kebutuhan selama acara semaksimal mungkin melibatkan peran serta warga lokal di sekitar area event seperti misalnya keperluan transportasi dan konsumsi selama kegiatan," tutup Dewa Ketha. (*)
Berita lainnya di Berita Denpasar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sejumlah-karya-mural-dari-anggota-komunitas-pojok.jpg)