Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Makna Tattwa dalam Lima Dasar Menerapkan Dharma di Hindu

Manawa Dharmasastra VII, menerangkan bahwa sepuluh penerapan Hindu agar sukses (Dharma Sidhyartha) harus didasarkan pada lima dasar pertimbangan.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: M. Firdian Sani
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi - Makna Tattwa dalam Lima Dasar Menerapkan Dharma di Hindu 

Dari yang berkuasa hingga tidak punya kuasa.

Intinya adalah keikhlasan hati yang suci berbakti pada Tuhan.

Lahir Buda Wage Langkir, Apa yang Seharusnya Dilakukan Umat Hindu?

Dasar ke tiga adalah Desa, yang berarti ketentuan-ketentuan setempat yang dianut oleh suatu masyarakat dalam suatu wilayah tertentu.

Kata Desa ini,berasal dari bahasa Sansekerta.

Dis yang berarti patokan atau petunjuk rohani. 

Kemudian dari sinilah timbul kata Upadesa, yang artinya sekitar petunjuk kerohanian.

Hitopadesa artinya petunjuk kerohanian untuk mendapatkan kebahagiaan (Hita).

Brahmopadesa artinya petunjuk kerohanian untuk mencapai alam ketuhanan. 

Bolehkah Umat Hindu Menikah Lebih dari Satu Kali? Berikut Penjelasannya

Desa inilah yang menjadi salah satu pertimbangan dalam menjalankan Dharma.

Artinya menjalankan ajaran agama, hendaknya disesuaikan dengan norma-norma spiritual yang sudah berlaku baik di suatu tempat. 

Kemudian ada Kala, atau waktu.

Dalam ajaran Hindu, dikenal empat waktu yaitu Krta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga.

Tentunya cara beragama setiap zaman ini tidak sama. 

Baca juga: Penampahan Kuningan, Memusnahkan Sifat Kala dalam Hindu

Sebab dalam ilmu Astronomi Hindu, dikenal adanya waktu baik dan buruk untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.

Di Bali dalam menentukan waktu terbaik, dikenal dengan istilah dewasya atau waktu terang dan baik. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved