Breaking News:

Kesehatan

Kenali Sindrom Badai Sitokin Akibat Banyaknya Peradangan pada Tubuh, Bisa Sebabkan Kematian

Badai Sitokin sendiri di gadang-gadang mampu membahayakan nyawa manusia, terlebih saat ini sedang masa pandemi Covid-19.

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Wema Satya Dinata
Pexels
Ilustrasi - Kenali Sindrom Badai Sitokin Akibat Banyaknya Peradangan pada Tubuh, Bisa Sebabkan Kematian 

Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Mungkin beberapa dari masyarakat masih asing dengan istilah Badai Sitokin.

Badai Sitokin sendiri di gadang-gadang mampu membahayakan nyawa manusia, terlebih saat ini sedang masa pandemi Covid-19.

Menurut dr. Danendra Danny Anggara, selaku dokter umum Rumah Sakit Surya Usadha Denpasar, mengatakan sebenarnya Badai Sitokin ini bukanlah nama sebuah penyakit, melainkan sindrom yang yang mengacu pada sekelompok gejala medis di mana sistem kekebalan tubuh mengalami terlalu banyak peradangan.

"Hingga mengakibatkan organ gagal berfungsi dan memicu kematian.

Baca juga: Sering Tidak Disadari, 5 Kebiasaan Ini Bikin Kamu Sulit Punya Anak

Virus Covid-19 ini menyerang manusia dalam bentuk antigen, dan antigen ini memicu munculnya sistem imun kita yang berupa terjadinya inflamasi (peradangan)," paparnya pada Sabtu (15 Mei 2021).

Karena mendapat serangan tersebut, sistem imun pada manusia akan berusaha untuk menghancurkan antigen tersebut, sehingga muncul lah gejala penyakit yang bisa berupa demam, sakit seluruh badan, nyeri sendi pergelangan dan juga berupa gejala lokal seperti sakit tenggorokan, sesak nafas, meriang dan lain sebagainya.

"Semakin hebat sistem imun seseorang dalam melawan kehebatan infeksi inilah yang memicu munculnya sindrom Badai Sitokin.

Dan jika semakin berat peradangan yang terjadi, maka proses peradangan ini bisa menimbulkan efek ke seluruh organ tubuh, seperti, peradangan pada jantung, ginjal, liver dan oegan lainnya," tambahnya.

Dan karena serangan inilah, menyebabkan kinerja jantung, ginjal menurun, pengentalan darah, hingga kontraksi jantung melemah.

 Sedangkan pada ginjal akan memicu kegagalan ginjal mengatur keseimbangan cairan dan berbagai macam kegagalan organ ini bisa menyebabkan gejala memberat dan resiko kematian.

Dikarenakan kondisi tersebut, dr. Danendra juga berharap jika ada kerabat yang terinfeksi virus Covid-19 dan meskipun sudah dinyatakan sembuh serta hasil pemeriksaan Swab atau PCR nya negatif, sebaiknya tetap melakukan konsultasi ke dokter, terutama untuk pemantauan pengentalan darah.

Juga fungsi organ vital seperti jantung, paru dan ginjal. (*)

Artikel lainnya di Kesehatan

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved