Serba Serbi
Pasiraman Dalem Dimade, Sisi Lain Pancoran Solas Bangli
Genah atau tempat malukat di Bali, selalu mempunyai sisi unik untuk digali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Untuk menjaga kebersihan dan kesakralannya.
Banten pejati atau canang, di depan asagan dihaturkan lalu pamedek sembahyang sebelum malukat.
Setelah malukat, pamedek berganti pakaian di lokasi yang sudah ada.
Baru sembahyang di Padmasana. Kembali ke kisah menarik tadi.
Dahulu konon, lokasi ini adalah pasiraman Ida Dalem Dimade.
Salah satu raja Bali yang cukup tersohor, selain Dalem Waturenggong.
Beliau memerintah Pulau Dewata, pada tahun 1625-1651 Masehi.
Namun pada tahun 1651 juga, beliau dikudeta oleh maha patihnya sendiri.
Yakni Gusti Agung Maruti, atau dikenal juga dengan nama Gusti Agung Widya.
Dalem Dimade kemudian mengungsi ke Guliang Kangin, Bangli.
Dengan diiringi putera beliau, bernama Dewa Agung Pemayun yang kemudian berkuasa di Pejeng.
Serta Dewa Agung Jambe, yang kemudian berkuasa di Klungkung.
Setelah kudeta berhasil, Gusti Agung Maruti hanya menguasai Gel-gel saja.
Sebab kabupaten lain, masih setia dengan Dalem Dimade.
Sehingga seolah-olah kekuasaan dijalankan dari Guliang Bangli.
Baca juga: Bhatara Brahma Lakukan Yoga, Berikut Penjelasan Wuku Warigadean
Hingga akhirnya beliau wafat di sana.
"Bahkan kini ada Pura Dalem Dimade di sini (Guliang Kangin)," jelas Dewa Ngakan.
Kemudian setelah Dewa Agung Jambe dewasa, beliau tinggal di Sidemen dengan sebutan Anglurah Sidemen.
Lalu dari Sidemen, Karangasem itu Dewa Agung Jambe dibantu rakyat dan pasukan wilayah Karangasem, Gianyar Badung, Tabanan, Buleleng dan Bangli menggempur Gusti Agung Maruti di Gel-gel pada tahun 1686.
Hingga pada akhirnya, Gusti Agung Maruti kalah dan lari ke Jimbaran.
Dewa Agung Jambe kemudian membuat keraton di Semarapura atau Klungkung saat ini.
Selain kisah itu, ada pula kisah mistis dari lokasi panglukatan ini.
"Banyak yang datang memohon anak atau keturunan," katanya dengan nada lebih pelan.
Hal itu, kata dia, sudah terbukti dan cukup banyak akhirnya yang datang.
Satu diantaranya, adalah seorang pamedek dari Lombok.
Di mana sudah 12 tahun kawin, namun belum dikaruniai keturunan.
Lalu ia ke sana dan malukat, memohon agar dimudahkan dalam mencari keturunan.
Tak dinyana, kini ia telah memiliki tiga orang putera.
Sehingga setelan itu, ia rutin datang ke sana untuk malukat.
Pamedek lain juga kerap datang, saat Purnama, Tilem, atau Kajeng Kliwon.
Bahkan ada pula pamedek yang memohon agar dimudahkan jodohnya.
"Anggara Kasih Prangbakat adalah wali di sini, setiap enam bulan sekali. Biasanya dari Puri Ubud dan Madangan datang patirtan ke sini," sebutnya.
Diantaranya adalah trah keturunan Ida Dalem Dimade.
Lanjutnya, 10 pancoran di bawah adalah lambang dasa aksara.
Yakni Sa, Ba, Ta, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya.
Kemudian ada pancoran, yang mana berisi kain hitam dan putih.
Disebutkan bahwa banyak orang hamil, meminta perlindungan dari air pancoran tersebut.
"Nah kalau ada yang meminta keturunan, bisa membawa pejati dua tanding serta membawa bunga tunjung tiga warna. Lalu bungkak yang nantinya akan dibantu pemangku untuk dihaturkan," jelasnya.
Tak hanya sampai di sana, ternyata banyak pula balian yang datang untuk membantu penyembuhan pasiennya.
"Ada yang datang pukul 12 malam ke sini," sebutnya.
Sehingga memang mata air ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang menyembuhkan.
Dahulu ketika Ida Dalem Dimade mandi pun, beliau juga merasakan badannya menjadi lebih baik dan segar. (*).
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pasiraman-dalem-dimade-sisi-lain-pancoran-solas-bangli.jpg)