Serba Serbi
Kisah Pancoran Solas Bangli, Pasiraman Dalem Dimade, Tempat Minta Keturunan dan Kesembuhan
Kisah sejarah, atau bahkan sisi mistis menjadi daya tarik wisata spiritual ketika malukat.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sehingga seolah-olah kekuasaan dijalankan dari Guliang Bangli. Hingga beliau wafat di sana.
"Bahkan kini ada Pura Dalem Dimade di sini (Guliang Kangin)," jelas Dewa Ngakan.
Kemudian setelah Dewa Agung Jambe dewasa, beliau tinggal di Sidemen dengan sebutan Anglurah Sidemen.
Lalu dari Sidemen, Karangasem itu Dewa Agung Jambe dibantu rakyat dan pasukan wilayah Karangasem, Gianyar Badung, Tabanan, Buleleng dan Bangli menggempur Gusti Agung Maruti di Gelgel pada 1686.
Akhirnya Gusti Agung Maruti kalah dan lari ke Jimbaran.
Dewa Agung Jambe kemudian membuat keraton di Semarapura atau Klungkung saat ini.
Selain kisah itu, ada pula kisah mistis dari lokasi panglukatan ini.
"Banyak yang datang memohon anak atau keturunan," katanya dengan nada lebih pelan.
Hal itu, kata dia, sudah terbukti dan cukup banyak akhirnya yang datang.
Satu diantaranya, adalah seorang pamedek dari Lombok yang sudah 12 tahun kawin, namun belum dikaruniai keturunan.
Lalu ia ke sana dan malukat, memohon agar dimudahkan dalam mendapat keturunan.
Tak dinyana, kini ia telah memiliki tiga orang putera.
Sehingga setelah itu, ia rutin datang ke sana untuk malukat.
Pamedek lain juga kerap datang, saat Purnama, Tilem, atau Kajeng Kliwon.
Bahkan ada pula pamedek yang memohon agar dimudahkan jodohnya.
"Anggara Kasih Prangbakat adalah wali di sini. Setiap enam bulan sekali, biasanya dari Puri Ubud dan Madangan datang patirtan ke sini," sebutnya.
Diantaranya adalah trah keturunan Ida Dalem Dimade.
Baca juga: Pancoran Solas Taman Mumbul, Wisata Religi Dengan 3 Konsep Penglukatan
Lanjutnya, 10 pancoran di bawah adalah lambang dasa aksara, yakni Sa, Ba, Ta, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya.
Kemudian ada pancoran, yang mana berisi kain hitam dan putih.
Disebutkan bahwa banyak orang hamil, meminta perlindungan dari air pancoran tersebut.
"Nah kalau ada yang meminta keturunan, bisa membawa pejati dua tanding serta membawa bunga tunjung tiga warna. Lalu bungkak yang nantinya akan dibantu pemangku untuk dihaturkan," jelasnya.
Tak hanya sampai di sana, ternyata banyak pula balian yang datang untuk membantu penyembuhan pasiennya.
"Ada yang datang pukul 12 malam ke sini," sebutnya.
Sehingga memang mata air ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang menyembuhkan. (*).
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pasiraman-dalem-dimade-sisi-lain-pancoran-solas-bangli.jpg)