Berita Buleleng
Museum Unik di Buleleng, Wijaya Kumpulkan 130 Jenis Rempah dari Sumatera Hingga India
Wijaya mengaku membangun museum secara perlahan sejak enam tahun silam pada lahan seluas 1,2 hektare.
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: DionDBPutra
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Warga Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan Bapupaten Buleleng bernama Made Suyasa Wijaya membangun Museum Rempah Sang Natha.
Museum ini dibangun untuk mengedukasi masyarakat tentang fungsi dan khasiat rempah-rempah.
Wijaya mengaku membangun museum secara perlahan sejak enam tahun silam pada lahan seluas 1,2 hektare.
Ia mengumpulkan berbagai jenis rempah yang ada di berbagai wilayah Indonesia hingga India. Total kini ada 130 jenis rempah yang ia tanam di museum tersebut.
Baca juga: Kejari Buleleng Kembali Geber Kasus Dugaan Korupsi di LPD Anturan, 16 Saksi Telah Diperiksa
Baca juga: Pria Bermotor Tertangkap Kamera CCTV Mencuri Celana Dalam di Desa Kalibukbuk Buleleng
Museum Rempah Sang Natha, kata Wijaya, berbeda dari museum rempah yang ada di daerah lain.
Di museum ini, pengunjung dapat melihat langsung aneka tanaman rempah serta proses pengolahan hingga menjadi bubuk, dan pengemasan.
Sementara museum rempah di daerah lain lebih memperlihatkan koleksi produk dan sejarah.
Rempah-rempah yang ditanam di museum ini salah satunya adalah cengkih dan kopi yang merupakan komoditas unggulan Buleleng.
Terdapat pula rempah andaliman, yang bibitnya didatangkan langsung dari Sumatera Selatan serta kapulaga yang didatangkan langsung dari India.
"Bibitnya saya beli lalu saya taman di museum ini," ucapnya saat meresmikan museum, Jumat 28 Mei 2021.
Jika sudah memasuki masa panen, rempah-rempah itu kata Wijaya, sebagian akan dijual serta diolah untuk dikonsumsi para pengunjung.
Ia berencana untuk membuat pewarna alami dan esensial dari rempah-rempah tersebut kemudian dijual di workshop yang ada di museum tersebut.
Asisten Administrasi Umum Setda Buleleng I Nyoman Genep yang hadir saat peresmian museum mengapresiasi pembangunan Museum Rempah Sang Natha ini.
Menurutnya, keberadaan museum rempah dapat menjadi sarana edukasi masyarakat, khususnya para generasi milenial dan menjadi alternatif wisata edukasi yang menjanjikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/museum-rempah.jpg)