Breaking News:

Berita Buleleng

Mesadu ke DPRD Buleleng, Pemilik Ruko Pasar Banyuasri Keluhkan Tarif Pungutan Harian dan Bulanan

mereka sangat keberatan dengan besaran tarif pungutan harian senilai Rp 20 ribu, serta tarif pungutan bulanan senilai Rp 400 ribu

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Sejumlah pemilik ruko Pasar Banyuasri saat mendatangi kantor DPRD Buleleng, Rabu (2/6/2021) 

Keempat, sejak ruko diserahkan kepada pemilik , terdapat bangunan lain yang menutup beberapa akses areal depan ruko.

Hal ini dirasa dapat mempengaruhi pendapatan pemilik toko itu sendiri, lantaran dagangannya tidak terlihat dari arah depan.

Kelima, baru beberapa bulan beroperasi ada beberapa ruko yang mengalami kebocoran pada bagian atap, dan kebocoran berupa rembesan air pada dak lantai toilet atas.

Hal ini sudah disampaikan kepada  Perumda Pasar Argha Nayottama, namun tak kunjung mendapat respons.

Baca juga: Illegal Logging Terjadi di Kawasan Hutan TNBB, Polhut Ngaku Kerap Diancam dengan Senjata Tajam

Keenam, pada ruko nomo 78 sampai dengan 96 tidak memiliki akses pembuangan limbah rumah tangga. Ketujuh, lingkungan ruko nomor 78 hingga 88 kurang bersih dan rapi, sehingga mengalami penurunan pengunjung.

Kedelapan, konstruksi bangunan ruko pada sebelah timur dan utara terlalu tinggi, dengan mempunyai 6 hingga 9 anak tangga. Namun tidak dilengkapi pegangan tangga.

Hal ini dirasa sangat berbahaya, utamanya bagi pengunjung lansia dan difabel. Dan kesembilan, pihaknya berharap Bupati Buleleng dapat mengizinkan pihaknya memasang kanopi secara swadaya, mengingat ruko terasa sangat panas jika disiang hari, dan terkena cipratan hujan saat hujan turun dengan lebat.

Atas tuntutan para pemilik ruko itu, Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna pun mengaku akan segera melakukan pertemuan dengan Perumda Pasar Argha Nayottama Buleleng, sehingga permasalahan ini dapat segera teratasi.

 Supriatna pun tidak menampik, sejak enam bulan diresmikan, aktivitas di pasar berlantai tiga ini belum begitu optimal alias masih terlihat sepi.

"Ini perlu pemikiran kita bersama, jangan dibiarkan berlarut-larut seperti ini. Kasian pedagangnya, juga jangan sampai kita sia-sia membangun pasar ini dengan anggaran yang cukup besar. Apalagi pasar ini diharapkan bisa menjadi ikon the spirit of sobean," terangnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved