Harga BBM Naik
Warga Buleleng Mulai Mengeluh, Dulu Cukup Sepekan, Kini Rp100 Ribu Pertamax Hanya Bertahan 3-4 Hari
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai Rabu (10/6/2026) dikeluhkan sejumlah warga di Kabupaten Buleleng.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai Rabu (10/6/2026) dikeluhkan sejumlah warga di Kabupaten Buleleng.
Kenaikan harga dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32 persen, membuat pengeluaran untuk transportasi harian ikut membengkak.
Salah satu pengguna Pertamax, Komang Yudha, mengaku harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk kebutuhan BBM.
Sebagai wartawan yang setiap hari beraktivitas di lapangan, ia selama ini mengandalkan Pertamax untuk kendaraan operasionalnya.
Baca juga: PENIMBUNAN BBM di Buleleng Belum Ditemukan, Polisi Perketat Pengawasan!
Menurut Yudha, ia biasanya mengalokasikan sekitar Rp100 ribu untuk kebutuhan BBM. Dengan harga lama, yakni Rp12.300, ia bisa mendapat sekitar 8,1 liter.
"Rp100 ribu biasanya cukup untuk kebutuhan liputan selama sekitar sepekan, khususnya untuk mobilitas di kawasan perkotaan," ucapnya.
Namun setelah harga Pertamax melonjak menjadi Rp16.250 per liter, dengan nominal yang sama jumlah BBM yang diperoleh Yudha hanya sekitar 6,1 liter.
Sehingga diperkirakan hanya cukup untuk operasional tiga hingga empat hari.
Yudha mengaku terkejut dengan kenaikan harga Pertamax yang dinilainya cukup besar.
Baca juga: Antrean Beli BBM di Nusa Penida Bali Mengular, Polisi: Tetap Tenang, Stok BBM Saat Ini Masih Aman
Menurutnya, lonjakan harga tersebut menambah beban pengeluaran di tengah berbagai kebutuhan hidup yang terus meningkat.
"Kenaikan harga ini sangat terasa. Pengeluaran untuk berbagai kebutuhan terus bertambah, sehingga biaya BBM yang ikut naik membuat saya harus mengatur ulang anggaran," ujarnya.
Meski demikian, warga Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, tersebut memilih tetap menggunakan Pertamax dan tidak beralih ke Pertalite.
Ia khawatir penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dapat memengaruhi performa maupun kondisi mesin kendaraannya.
Yudha mengatakan, sejak awal sepeda motor yang digunakannya memang terbiasa mengonsumsi Pertamax. Karena itu, ia enggan mengambil risiko dengan mengganti jenis BBM hanya demi menghemat pengeluaran.
"Bukannya tidak mau, tapi kasihan mesin motornya. Dari awal sudah biasa pakai Pertamax. Saya pakai PCX 160 cc. Pindah ke Pertalite walaupun lebih murah, saya takut malah merusak mesin. Alhasil pengeluaran semakin bertambah," katanya.
Baca juga: TAMBAH Pasokan BBM ke Nusa Penida, Antisipasi Lonjakan Pembeli BBM Saat High Season
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Aktivitas-di-salah-satu-SPBU-di-Denpasar-beberapa-waktu-lalu.jpg)