Serba Serbi
Kisah Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha Dalam Menyatukan Sekte di Bali
Mpu Kuturan hadir ke Pulau Dewata atas permohonan Udayana untuk diposisikan sebagai senapati
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Pura yang dimaksud diantaranya adalah Pura Rambut Siwi, Tanah Lot, Uluwatu, Peti Tenget, Sakenan, Er Jeruk, Masceti, Watuklotok, Goa Lawah, Silayukti, Ponjok Batu, Pulaki, dan lain sebagainya.
Dan pada realitanya, semua yang dibangun ini berada di pinggir pantai.
Dengan tujuan mempersatukan dan memperkuat agama Hindu di Bali.
Juga untuk membendung kekuatan agama atau ajaran lain, layaknya yang perlahan-lahan masuk dan melanda kerajaan Majapahit.
Apalagi pantai di Bali hampir semuanya indah dipandang dan memiliki panorama yang bagus.
Dang Hyang Nirartha pun terkesima melihat keindahan pantai Bali, ketika ia sampai di Pura Purancak.
Sehingga menjadi inspirasi dan cita-citanya dalam mempertahankan serta mengembangkan agama Hindu.
Dengan membangun pura-pura sebagai benteng Bali.
Bahkan beliau menggunakan pantai sebagai sumber inspirasi seni sastra.
Sebagai seorang mahakawi, banyak hasil karya sastra beliau yang berasal dari buah pikirannya.
Baca juga: Sejarah Pura Er Jeruk Gianyar, Tempat untuk Memohon Rezeki Hingga Keturunan
Seperti kitab Sundarigama, Dharma Sunya, Jongberu, serta karangan lainnya.
Kehadiran beliau di berbagai tempat, menghadirkan banyak manfaat bagi masyarakat khususnya dalam urusan spiritualitas.
Kehadiran beliau juga dipandang sebagai seseorang yang memiliki kesaktian, sehingga nama beliau juga dikenal dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rawuh. (*).
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/melasti-di-tanah-lot4.jpg)