Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Mantra dan Sloka Wiwaha, Boleh Menikah Sejak Usia 20 Tahun

Empat jenjang kehidupan, diantaranya adalah Brahmacari Asrama, Grhasta Asrama, Wanaprasta Asrama, dan Bhiksuka Asrama.

Doc Pribadi Wirat Eka
Foto Pernikahan - Mantra dan Sloka Wiwaha, Boleh Menikah Sejak Usia 20 Tahun 

Artinya, seseorang pelajar wajib menuntut ilmu pengetahuan dan keutamaan.

Jika sudah berusia 20 tahun, maka orang boleh kawin.

Jika setengah tua, berpeganglah pada ucapan yang baik hanya tentang lepasnya nyawa kita mesti berguru.

Kemudian pesan kepada pasangan suami istri, dalam Reg Weda X.18,6. Bunyinya, 'Arohatayura Jarasam Vrnana, Anupurvam Yatamana Yatistha, iha tvasta snjanima sajosa, dirgham ayub karati jivase vah'.

Artinya, terimalah hidup ini yang menyongsong hari tua, kamu semua berjuang satu di belakang yang lain, semoga Tuhan, pencipta benda-benda yang indah ini, merahmati dan memberikan umur panjang.

Lalu ada mantra lainnya, dari Atharva Veda, 19, 15.6. Bunyinya, 'Abhayam mitrad abhayam amitrad, abhayam jnatad abhayam puroyah, abhayam naktam abhayam divamah, sarvasa mama mitram bhavanta.

Artinya, semoga tiada bahaya dari teman, tiada bahaya dari musuh, tiada bahaya dari yang dikenal.

Semoga malam kita tanpa bahaya, siang kita tanpa bahaya, semoga semua arah menjadi sahabat kami.

Kutipan Reg Veda 11, 39.2 juga penting dipahami pasangan suami-istri.

Yang bunyinya 'Ihaiva Stam ma ri yaustham, Visvam ayuun uyasnutam, Kridantau putrair na ptrbhir, Moda mamau sve grhe.

Artinya, hendaknya engkau berdua tinggal di sini, tidak pernah berpisah menikmati umur panjang. Bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu, bergembira di rumahmu sendiri.

Namun ada pula larangan dalam perkawinan, seperti yang disebutkan dalam Dharma Sastra, 60 halaman 51.

Bunyinya 'Svam putrim bhajate yastu, bhajate yastu mataram, yascodgrhnati tailingam, asi pataka mucyate.

Artinya, orang yang bersenggama dengan putrinya sendiri, bersenggama dengan ibunya sendiri, bersenggama dengan wanita yang masih ada hubungan keluarga dekat dengannya semisal adik, keponakan, bibi, dan sebagainya, maka dia dikatakan terlibat dosa paling keji (atipataka).

Setelah itu, memiliki anak pun adalah karunia. Apalagi anak yang suputra seperti disebutkan dalam Dasa Ludra 84, halaman 62.

Bunyinya 'Sarvaridipa kascandah, prabhate ravirdipakuh, trailikye dipako dharmah, suputrah kula dipakah.

Artinya, bulan adalah pelita di malam hari, pelita pada siang hari adalah matahari, pelita ketiga dunia (triloka) adalah Dharma dan ajaran rohani, putra berbudi luhur adalah pelita di dalam keluarga.

Untuk itu menjadi anak juga harus baik dan berbakti kepada orang tua serta Catur Guru. Seperti dalam kutipan sloka Niti Sastra, XII.1.

Bunyinya, 'Padaning ku putra taru suska tumuwuh, iri madyaning wana, maghasagerit matemah agni sahana hananing halas geseng, i kanang suputra taru cendana tumuwuh, i ring wanantara, plawagoroga mrega kaga bhramora, mara riya padaniwi'.

Artinya, anak yang jahat sama dengan pohon yang kering di tengah hutan. Karena pergesekan, keluar apinya lalu membakar seluruh hutan. Akan tetapi anak yang baik sama dengan pohon Cendana, yang tumbuh di dalam lingkungna hutan Dera, ular, hewan berkaki empat, burung, dan kumbang datang menggerubunginya. (*).

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved