Tips Kesehatan
11 Gejala Hipertensi yang Harus Diwaspadai, Salah Satunya Mual dan Muntah
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, tekanan darah ditulis dalam dua angka, yakni sistolik dan diastolik.
TRIBUN-BALI.COM - Hipertensi adalah ketika tekanan darah terlalu tinggi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, tekanan darah ditulis dalam dua angka, yakni sistolik dan diastolik.
Sistolik mewakili tekanan dalam pembuluh darah saat jantung berkonstraksi atau berdenyut.
Sementara diastolik mewakili tekanan dalam pembuluh darah saat jantung beristirahat di antara setiap denyut.
Hipertensi didiagnosis ketika pembacaan tekanan darah pada dua hari berbeda mencapai 140 mmHg untuk sistolik dan/atau 90 mmHg untuk diastolik.
Baca juga: Salah Satunya Kurangi Stress, Berikut 7 Cara Menurunkan Hipertensi Tanpa Obat
Baca juga: Ada Riwayat Hipertensi, Wayan Suardana Ditemukan Meninggal di Sawah, Diduga Terpeleset Saat Cari Air
Baca juga: Usada Bali, Daun Afrika Bantu Atasi Hipertensi Hingga Diabetes
Semakin tinggi tekanan darah seseorang, risiko kesehatan seperti penyakit jantung, serangan jantung, dan stroke, juga akan meningkat.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), hipertensi biasanya berkembang seiring waktu.
Kondisi ini bisa terjadi akibat gaya hidup tidak sehat, seperti kurang aktivitas fisik, atau kondisi kesehatan tertentu yang mendasarinya, termasuk diabetes dan obesitas.
Hipertensi juga mungkin terjadi selama periode kehamilan.
Gejala hipertensi
Hipertensi adalah "silent killer". Maksudnya, kebanyakan orang tidak menyadarinya karena tak mengalami gejala hipertensi yang jelas.
Untuk itu, penting untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin.
Baca juga: Mengenal Hipertensi Si Pembunuh dalam Senyap, Lakukan 5 Pola Hidup Sehat Ini
Baca juga: Disebut Pembunuh Senyap, Kapan Penderita Hipertensi Harus Konsumsi Obat? Berikut Penjelasannya
Namun, menurut WebMD, WHO, dan American Heart Association (AHA), jika tekanan darahnya sangat tinggi, beberapa gejala hipertensi berikut mungkin bisa muncul:
- Sakit kepala parah, termasuk sakit kepala di pagi hari
- Mimisan
- Detak jantung tidak beraturan
- Masalah pengelihatan
Pada kasus yang lebih parah, gejala hipertensi bisa mencakup:
- Kelelahan atau kebingungan
- Sakit dada
- Mual dan muntah
- Sulit bernapas
- Kecemasan
- Sulit tidur
- Wajah memerah
Baca juga: Abdul Terbujur Kaku di Kos Jl Pulau Sebatik Denpasar, Sempat Ikut Vaksin & Punya Riwayat Hipertensi
Baca juga: Dikenal Sebagai Pembunuh Senyap, Tekanan Darah Tinggi atau Hipertensi Bisa Sebabkan Penyakit Jantung
Menurut AHA, wajah memerah terjadi ketika pembuluh darah di wajah melebar.
Kondisi ini bisa terjadi secara tidak terduga atau pun sebagai respons terhadap pemicu tertentu, seperti paparan sinar matahari, cuaca dingin, makanan pedas, produk perawatan kulit, dan lainnya.
Meskipun wajah bisa memerah ketiak tekanan darah lebih tinggi daripada biasanya, namun tekanan darah tinggi atau hipertensi bukan penyebab wajah merah.
Beberapa orang merasakan gejala lain tersebut mungkin berkaitan dengan hipertensi, tetapi mungkin juga tidak.
Kapan hipertensi harus dapat pertolongan medis segera?
Pada kebanyakan kasus, hipertensi tidak menyebabkan sakit kepala atau mimisan, kecuali dalam kasus krisis atau keadaan darurat medis ketika tekanan darah mencapai 180/120 mm Hg atau lebih tinggi.
Baca juga: Dikenal Sebagai Pembunuh Senyap, Tekanan Darah Tinggi atau Hipertensi Bisa Sebabkan Penyakit Jantung
Baca juga: Kadinkes Bali Sebut Banyak Nakes Tidak Lolos Screening Vaksinasi Covid-19 Akibat Miliki Hipertensi
Jika tekanan darah Anda sangat tinggi dan mengalami sakit kepala, mimisan, atau merasa tidak enak badan, cobalah menunggu selama lima menit dan lakukan tes ulang.
Jika pembacaan tetap pada angka 180/120 mm Hg atau lebih, segeralah mencari pertolongan darurat medis.
Sementara jika mengalami sakit kepala parah atau mimisan dan tidak sehat, hubungi dokter.
Sebab, itu mungkin saja gejala kondisi kesehatan lainnya.
Penting untuk diingat kembali bahwa hipertensi tidak selalu menunjukkan gejala.
Untuk itu, penting untuk tetap melakukan pengecekan tekanan darah secara rutin.
Baca juga: Beberapa Nakes di Bali Gagal Ikuti Vaksinasi Covid-19 Dikarenakan Hipertensi
Baca juga: Minum Kopi Bikin Tekanan Darah Tinggi Alias Hipertensi? Begini Penjelasannya
AHA menganjurkan orang dewasa dengan tekanan darah normal melakukan pengecekan setidaknya setiap tahun di tempat pelayanan keseahtan atau komunitas kesehatan terdekat.
Jika Anda memiliki hipertensi, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk memonitor tekanan darah lebih sering di rumah serta menganjurkan perubahan gaya hidup.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul gejala hipertensi yang perlu diwaspadai