Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba serbi

Makna Filosofi Ngarebuin Saat Rahinan Sugihan

Rerahinan sugihan, jatuh pada hari Kamis dan hari Jumat wuku Sungsang.

AA Seri Kusniarti
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti 

Maka untuk menyucikan di dalam diri (bhuana alit) akan dilakukan parebuan, sedangkan pembersihan alam semesta (bhuana agung) ditandai dengan melaksanakan bersih-bersih di lingkungan pura atau merajan. 

Sejatinya upacara parebuan, marebu, ngarebu, marerebu saat rahinan sugihan itu bertujuan untuk menyatukan keluarga, kerabat sehingga bisa bersenang-senang menghadapi hari raya Galungan.

"Oleh sebab itu sarana upacara marebu ini, terdiri dari makanan berupa guling babi, guling bebek, guling telor dan sebagainya," sebut beliau.

Sarana upacara marerebu seperti makanan tersebut, sepatutnya dan harus dimakan bersama-sama di  pura atau di merajan setelah matur piuning upacara sugihan selesai.

"Pada zaman dahulu pada rahinan sugihan di saat marebu, maka biasanya orang akan membawa nasi dalam satu tempat dan daging parebuan juga dalam satu tempat," ujar ida.

Setelah selesai sembahyang maka keluarga atau kerabat akan makan bersama-sama di pura atau di merajan, sehingga akan terjadi perebutan makanan (karena tempatnya satu wadah) dengan suka ria.

Nah dalam perebutan makanan ini sering terjadi sengolan dan obrolan tentang hal-hal yang menyenangkan, sehingga kegembiraan muncul. 

Bahkan orang yang tadinya dulu saling bersitegang, karena kondisi yang riang gembira, hatinya bersama-sama menjadi luluh.

Dengan demikian yang tadinya ada rasa marah, rasa dendam, akan sirna karena telah melaksanakan makan bersama-sama dalam situasi gembira. Maka parebuan  ini sesungguhnya adalah ritual penyucian atau pembersihan ke dalam hati sendiri.

Sehingga rasa kedamaian akan muncul. Hal ini bisa dibandingkan dengan upacara bakar batu bagi suku-suku yang berada di pedalaman Papua.

Di mana upacara perdamaian setelah perang suku ditandai dengan pesta bakar batu, makan bersama antara suku yang tadinya bermusuhan.

"Sehingga makna dari upacara marebu saat Sugihan adalah simbol penyucian atau pembersihan bhuana alit yang berupa pikiran, perilaku, bahkan perbuatan untuk menyongsong datangnya hari raya Galungan yang sangat disucikan," sebut beliau. Dengan jalan memakan atau menyucikan organ dalam.

Oleh karena itu setelah melakukan parebuan, diusahakan makan bersama-sama di pura atau merajan dan jangan disimpan sendiri dibawa pulang. Karena spirit kebersamaan akan menimbulkan ketenangan batin dan pikiran, sehingga hati menjadi suci dan bersih. 

Parebuan tidak harus dengan babi guling, parebuan disesuaikan dengan kemampuan dan jumlah orang yang akan diajak menikmati upacara parebuan itu.

Marebu boleh menggunakan babi guling bagi yang mampu, boleh itik guling, bahkan boleh telor guling bagi yang kurang mampu.

Sebab  dalam beragama tidak ada paksaan dan beragama sebenarnya untuk ketenangan dan kebahagiaan serta kedamaian.

Oleh sebab itu melakukan upacara marebu saat sugihan, tidak harus dengan babi guling, boleh dengan yang lebih kecil sesuai dengan kemampuannya. 

"Karena sesungguhnya parebuan, yang berupa guling adalah bukan dipersembahkan kepada ida bhatara-bhatari, tetapi hanya matur piuning, dan akan digunakan untuk sarana penyucian manusia dalam mencapai kebahagiaan," sebut beliau."

"Sehingga upacara marebu  pada rahinan sugihan memiliki makna dan nilai filosofis untuk menyucikan atau membersihkan bhuana alit (manusia) berupa rohani pikiran dan perilaku, sedangkan Sugihan Jawa adalah pembersihan bhuana agung (alam semesta), untuk menyongsong datangnya hari raya besar suci Galungan. (*)

Artikel lainnya di Serba serbi

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved