Breaking News:

Berita Bangli

Ibarat Jatuh Tertimpa Tangga,Harga Hasil Panen Petani dari 3 Desa di Bangli Terdampak Longsor Anjlok

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sebab mereka tak hanya sulit memasarkan hasil panen, namun harga hasil pertanian turut anjlok

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
bawang hasil panen warga di desa Terunyan yang disimpan di rumah bawang sebelum dijual. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Hampir tiga pekan pasca musibah gempa bumi yang berdampak pada kejadian longsor di Kintamani, satu-satunya akses darat penghubung desa Buahan menuju Terunyan belum direkomendasikan untuk dilintasi.

Hal ini mengingat longsor susulan masih rawan terjadi di jalur tersebut.

Kondisi ini berimbas pada nasib para petani dari Desa Abang Batudinding, Desa Abang Songan dan Desa Terunyan.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sebab mereka tak hanya sulit memasarkan hasil panen, namun harga hasil pertanian turut anjlok.

Baca juga: Terdampak Longsor, Pasokan Air PDAM untuk Wilayah Kota Bangli Terganggu

Seperti yang diungkapkan Ketut Sukarma, Kamis (4/11/2021).

Petani asal desa Terunyan itu mengatakan, saat kondisi akses jalan masih belum terdampak gempa, para pengepul biasanya sangat ramai berdatangan ke wilayahnya.

Sedangkan pasca gempa dan tanah longsor, lanjut dia, jalur darat yang berada di kaki Bukit Abang itu rawan untuk dilintasi.

Pengepul yang biasanya datang pun sangat sedikit, dan hanya yang benar-benar berani melintas.

"Penumpukan hasil panen pastinya terjadi yang menyebabkan harga yang diberikan kepada petani sangat murah.

Seperti harga bawang merah, sebelumnya harga bawang ditingkat petani tembus Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilo. Namun sekarang dengan kondisi saat ini, harganya jauh menurun. Hanya berkisar Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kilo," sebutnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved