Berita Denpasar
Simak Makna Pengerupukan Sebagai Wujud Solidaritas Umat Hindu
Setiap tahun umat Hindu merayakan pergantian tahun Saka atau yang dikenal dengan hari suci Nyepi.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
Ngerupuk sejatinya, tidak hanya sebagai penetralisir bhuta kala dan energi negatif di alam ini.
Namun pula sebagai wujud nyata dari kebangkitan solidaritas umat Hindu.
Sebab ngerupuk dilakukan bersama-sama, baik di lingkungan keluarga maupun di banjar dan desa-desa.
Semua masyarakat akan berkumpul, tidak hanya muda-mudi yang merayakan ngerupuk ini.
Kalangan tua, muda, hingga anak-anak ikut bersorak-sorai merayakan ngerupuk.
Bahkan bendesa adat dan prajuru adat, akan ikut mengarahkan serta mengawasi jalannya prosesi ngerupuk.
Sehingga berjalan sesuai harapan tanpa ada keributan atau hal yang tidak diinginkan.
Hal ini menjadi contoh, agar semua orang ikut berkontribusi memuliakan alam semesta beserta isinya.
Sebagai bentuk rasa terimakasih dan wujud syukur kepada Tuhan, atas karunia beliau menciptakan alam dengan segala isi dan bentuknya.
Dengan bersama-sama pun, rasa bahagia timbul dan bersorak-sorai melepaskan penat energi negatif di diri saat ikut ngerupuk.
Baca juga: Nyepi Sebentar Lagi, Pahami Makna Catur Brata Penyepian
Baca juga: Lomba Ditiadakan, Pemkab Badung Tetap Izinkan Pawai Ogoh-Ogoh Saat Hari Pengerupukan
Sehingga mampu melaksanakan hari suci Nyepi dengan lapang dada dan ikhlas keesokan harinya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ogoh-ogoh-sang-maungpati-gemeh-denpasar-1.jpg)