Breaking News:

Berita Denpasar

Simak Makna Pengerupukan Sebagai Wujud Solidaritas Umat Hindu

Setiap tahun umat Hindu merayakan pergantian tahun Saka atau yang dikenal dengan hari suci Nyepi.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
Dok. Instagram @st.gemehindah
Ogoh-ogoh Sang Maungpati Banjar Gemeh Denpasar pada beberapa waktu lalu 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setiap tahun umat Hindu merayakan pergantian tahun Saka atau yang dikenal dengan hari suci Nyepi.

Selain sebagai bentuk hari suci untuk mengembalikan keseimbangan bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia).

Nyepi juga menjadi hari raya yang ditunggu kaula muda-mudi seantero Bali.

Pasalnya saat Nyepi, akan selalu diawali oleh ngerupuk. 

Baca juga: Lomba Ditiadakan, Pemkab Badung Tetap Izinkan Pawai Ogoh-Ogoh Saat Hari Pengerupukan

Baca juga: Sekaa Truna Masih Ragu Garap Ogoh-ogoh, Disbud dan MDA Kabupaten Tabanan Tegaskan SE MDA Bali 

Baca juga: MEGAH! Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI Bakal Gunakan Bade Tumpang Sebelas, Ada Mapeed Ogoh-ogoh

Pada hari ngerupuk ini, pemuda-pemudi akan mengarak ogoh-ogoh keliling desa.

Dengan suasana meriah, diiringi gamelan dan membawa obor.

Setelah selesai, ogoh-ogoh akan dibakar sebagai wujud nyomia bhuta kala.

Agar tidak menggangu kehidupan manusia. 

Sejatinya, rentetan sebelum Nyepi cukup banyak.

Baca juga: Nyepi Sebentar Lagi, Pahami Makna Catur Brata Penyepian

Baca juga: Nyepi Segara, Pesisir Pantai di Kusamba Klungkung Dijaga Pecalang

Diantaranya Tawur Agung Kesanga, serta upacara-upacara lainnya seperti melasti.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved