Berita Denpasar
Simak Makna Pengerupukan Sebagai Wujud Solidaritas Umat Hindu
Setiap tahun umat Hindu merayakan pergantian tahun Saka atau yang dikenal dengan hari suci Nyepi.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setiap tahun umat Hindu merayakan pergantian tahun Saka atau yang dikenal dengan hari suci Nyepi.
Selain sebagai bentuk hari suci untuk mengembalikan keseimbangan bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia).
Nyepi juga menjadi hari raya yang ditunggu kaula muda-mudi seantero Bali.
Pasalnya saat Nyepi, akan selalu diawali oleh ngerupuk.
Baca juga: Lomba Ditiadakan, Pemkab Badung Tetap Izinkan Pawai Ogoh-Ogoh Saat Hari Pengerupukan
Baca juga: Sekaa Truna Masih Ragu Garap Ogoh-ogoh, Disbud dan MDA Kabupaten Tabanan Tegaskan SE MDA Bali
Baca juga: MEGAH! Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI Bakal Gunakan Bade Tumpang Sebelas, Ada Mapeed Ogoh-ogoh
Pada hari ngerupuk ini, pemuda-pemudi akan mengarak ogoh-ogoh keliling desa.
Dengan suasana meriah, diiringi gamelan dan membawa obor.
Setelah selesai, ogoh-ogoh akan dibakar sebagai wujud nyomia bhuta kala.
Agar tidak menggangu kehidupan manusia.
Sejatinya, rentetan sebelum Nyepi cukup banyak.
Baca juga: Nyepi Sebentar Lagi, Pahami Makna Catur Brata Penyepian
Baca juga: Nyepi Segara, Pesisir Pantai di Kusamba Klungkung Dijaga Pecalang
Diantaranya Tawur Agung Kesanga, serta upacara-upacara lainnya seperti melasti.
Selain di perempatan desa, ngerupuk juga dilakukan di pekarangan rumah masing-masing.
Untuk di rumah, biasanya dilakukan dengan sarana api atau obor.
Diiringi bunyi-bunyian yang meriah, bisa dengan memukul kaleng bekas atau kulkul kecil.
Maknanya memberikan suasana asri dan estetis.
Serta tentu saja nyomia bhuta kala di rumah, sehingga tidak ngarebeda dan memberi ketenangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ogoh-ogoh-sang-maungpati-gemeh-denpasar-1.jpg)