Berita Bali

Bayuh Jurang Katemu, Ruwatan Kelahiran Wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala

Bayuh Jurang Katemu, Ruwatan Kelahiran Wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Suasana ruwatan atau bayuh jurang katemu untuk kelahiran wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala di kediaman Dewa Mangku Dalang Samerana di Beng Gianyar Bali.  

"Sifat-sifat ini pula, yang terkadang membuat panas di keluarga, karena rentan menimbulkan konflik," katanya.

Sebab terkadang bila diberi perintah, maka orang kelahiran wuku tersebut akan melawan dan lambat dalam mengerjakannya.

Dari sisi eksternal, banyak yang iri pada orang kelahiran wuku-wuku itu, dan mereka kerap menghadapi masalah keuangan atau ekonomi.

Untuk itu sifat yang buruk ini perlu diruwat, agar semeton kanda empat yang bareng sejak lahir bisa membantu orang kelahiran wuku-wuku tersebut ke arah yang lebih baik. 

"Filosofi ini, adalah memberi labaan kepada kanda empat, agar membantu menyeimbangkan sifat buruk seseorang," sebut pemangku asli Beng, Kabupaten Gianyar ini.

Sehingga sifat buruk lama-lama bisa terkikis. Untuk itulah, dalam prosesinya menggunakan darah dari kucit berwarna belang (putih-hitam).

Kemudian darah ayam sudamala dan ayam mancawarna. Darah ini dicampur dengan air yang telah disucikan untuk dilukat atau disiramkan kepada orang yang akan diruwat. Tentu saja dengan upacara dan upakara serta mantra dari sang pemangku. 

Ada 8 orang yang mengikuti prosesi ini, dan berasal dari berbagai daerah di Bali. Baik itu dari Kabupaten Karangasem, Kabupaten Bangli, hingga Batubulan.

"Orang-orang yang ikut ruwatan ini, merasakan masalah terbesarnya adalah ego dan angkuh, yang kerap menyulitkan hidupnya," ujarnya.

Prosesi dimulai dengan mabyakawon, kemudian setelah itu menghaturkan banten, yang dilengkapi dengan ayam sudamala.

Baca juga: Bhatara Mahadewa Semadi, Anggara Wuku Kulantir Berbarengan Kajeng Kliwon

Lalu ngewangsuh wayang panyudamalan. Baru ke panglukatan. Wayang yang digunakan untuk maruwat adalah wayang Mredah, wayang Siwa, dan wayang Brahma, serta wayang Sahadewa.

Wangsuh wayang ini dipakai oleh yang diruwat. Untuk bantennya sendiri akan disesuaikan, tergantung keinginan orang yang akan diruwat. Bisa mengambil nista, madya, dan utama.

"Kalau yang ruwat sekarang (kemarin), adalah menggunakan banten madya alit," sebutnya. 

Untuk harga per orang yang diruwat pun tidak mahal, hanya Rp 1,2 juta saja per orang. Dan itu bantennya sudah disiapkan, jadi orang yang mau ruwat tinggal datang saja membawa baju ganti, serta tirta dari kawitan.

"Kalau untuk ruwatan jurang ketemu ini, sekali saja cukup. Tetapi kalau bayuh oton baru diperlukan tiga kali," sebut pemangku yang sudah menjalankan ruwatan sejak dua tahun lalu ini. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved