Berita Bali
Bayuh Jurang Katemu, Ruwatan Kelahiran Wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala
Bayuh Jurang Katemu, Ruwatan Kelahiran Wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Untuk bayuh oton, kata dia, harus tiga kali diwacak dan diberi labaan kepada kanda empat yang diajak lahir. Sebab ada kala, bhuta, dan dewa diantaranya.
"Dahulu sebelum seseorang lahir kan ada perjanjian, dan ada semaya makanya ada penebusan," ucapnya.
Biasanya dilakukan dari lahir sampai ketus gigi. Kemudian saat akhil balik, dan saat dewasa atau mempunyai anak, lalu saat tua atau telah memiliki cucu.
"Biasanya setelah menikah dan memiliki anak satu, kondisi rumah tangga akan panas dan ada saja masalah. Sehingga harus bayuh oton ketiga kalinya waktu itu," jelasnya.
Baca juga: Dirayakan Setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep, Tumpek Landep Juga Untuk Memuliakan Teknologi
Bayuh oton penting untuk keseimbangan sekala-niskala seseorang. Karena seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, tentu saja kian sulit menjaga kanda empat ini sebagai pelindung diri.
Apalagi bila banyak datang cobaan, godaan, dan serangan. Semua ini sudah tertera dengan jelas dalam lontar-lontar tentang ruwatan atau tenung, serta lontar pewacakan kelahiran.
Untuk bayuh jurang ketemu ini dilakukan di lebuh atau di angkul-angkul depan rumah menghadap ke timur banten dan prosesinya.
(*)