Berita Bali
Bayuh Jurang Katemu, Ruwatan Kelahiran Wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala
Bayuh Jurang Katemu, Ruwatan Kelahiran Wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Bayuh Jurang Katemu, Ruwatan Kelahiran Wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala.
Kelahiran dalam Hindu, khususnya di Bali adalah suatu anugerah. Apalagi jika terlahir kembali (reinkarnasi) sebagai manusia.
Namun tentu, setiap kelahiran membawa pengaruh karmaphala. Kemudian setelah kelahiran, dipengaruhi oleh banyak faktor baik sekala maupun niskala.
Seperti dipengaruhi oleh wewaran, shio, zodiak, dan masih banyak lagi hal lainnya. Belum lagi pengaruh lingkungan dan kehidupan di dunia ini.
Tentu saja hal tersebut membawa pengaruh baik dan buruk, positif dan negatif bagi seseorang di dalam kehidupannya.
Baca juga: Caru Ruwat Bhumi Nangluk Merana Agung, dari Poros Tampaksiring Doakan Dunia Sembuh dari Grubug
Khusus umat Hindu, memercayai bahwa wewaran yang terdiri dari wuku, saptawara, pancawara, dan lain sebagainya sangat pula memengaruhi setiap insannya.
Salah satu yang sangat terkenal adalah kelahiran wuku Wayang, yang harus diruwat atau bayuh sapuh leger dengan wayang.
Dikenal pula kelahiran melik, serta kelahiran lainnya yang cukup memiliki energi panas.
Sehingga kerap mempengaruhi seseorang di dalam menjalani kehidupannya. Seperti kelahiran wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala.
Orang-orang yang lahir pada wuku ini, sangat perlu diruwat atau dibayuh dengan bayuhan Jurang Ketemu.
Dewa Mangku Dalang Samerana, menjelaskan bahwa ruwat atau bayuh oton sangat penting dilakukan.
"Jadi jangan salah kaprah, bahwa bayuh itu hanya saat kecil saja. Seharusnya bayuh itu dilakukan saat kecil, kemudian setelah akhil balik atau remaja, saat dewasa dan setelah menikah, serta setelah tua tatkala memiliki cucu," sebutnya di Kabupaten Gianyar, Bali, Minggu 13 Februari 2022.
Salah satu bayuh atau ruwat yang dilayani oleh Dewa Mangku Dalang Samerana adalah ruwat jurang ketemu ini.
Sebab bagi dalang wayang ini, kelahiran wuku Gumbreg, Pujut, Uye, dan Bala adalah salah satu kelahiran madurgama atau yang paling riskan. Hal tersebut juga dijelaskan dalam banyak sastra suci di Hindu Bali.
Energi panas yang kuat, terkadang membuat orang kelahiran wuku tersebut memiliki sifat keras hati, cenderung angkuh, egois, dan bengkung atau tidak bisa dikasitahu.
Baca juga: Pertunjukan Sakral Dipentaskan, Tampaksiring Gelar Caru Ruwat Gumi untuk Netralisasi Covid-19
"Sifat-sifat ini pula, yang terkadang membuat panas di keluarga, karena rentan menimbulkan konflik," katanya.
Sebab terkadang bila diberi perintah, maka orang kelahiran wuku tersebut akan melawan dan lambat dalam mengerjakannya.
Dari sisi eksternal, banyak yang iri pada orang kelahiran wuku-wuku itu, dan mereka kerap menghadapi masalah keuangan atau ekonomi.
Untuk itu sifat yang buruk ini perlu diruwat, agar semeton kanda empat yang bareng sejak lahir bisa membantu orang kelahiran wuku-wuku tersebut ke arah yang lebih baik.
"Filosofi ini, adalah memberi labaan kepada kanda empat, agar membantu menyeimbangkan sifat buruk seseorang," sebut pemangku asli Beng, Kabupaten Gianyar ini.
Sehingga sifat buruk lama-lama bisa terkikis. Untuk itulah, dalam prosesinya menggunakan darah dari kucit berwarna belang (putih-hitam).
Kemudian darah ayam sudamala dan ayam mancawarna. Darah ini dicampur dengan air yang telah disucikan untuk dilukat atau disiramkan kepada orang yang akan diruwat. Tentu saja dengan upacara dan upakara serta mantra dari sang pemangku.
Ada 8 orang yang mengikuti prosesi ini, dan berasal dari berbagai daerah di Bali. Baik itu dari Kabupaten Karangasem, Kabupaten Bangli, hingga Batubulan.
"Orang-orang yang ikut ruwatan ini, merasakan masalah terbesarnya adalah ego dan angkuh, yang kerap menyulitkan hidupnya," ujarnya.
Prosesi dimulai dengan mabyakawon, kemudian setelah itu menghaturkan banten, yang dilengkapi dengan ayam sudamala.
Baca juga: Bhatara Mahadewa Semadi, Anggara Wuku Kulantir Berbarengan Kajeng Kliwon
Lalu ngewangsuh wayang panyudamalan. Baru ke panglukatan. Wayang yang digunakan untuk maruwat adalah wayang Mredah, wayang Siwa, dan wayang Brahma, serta wayang Sahadewa.
Wangsuh wayang ini dipakai oleh yang diruwat. Untuk bantennya sendiri akan disesuaikan, tergantung keinginan orang yang akan diruwat. Bisa mengambil nista, madya, dan utama.
"Kalau yang ruwat sekarang (kemarin), adalah menggunakan banten madya alit," sebutnya.
Untuk harga per orang yang diruwat pun tidak mahal, hanya Rp 1,2 juta saja per orang. Dan itu bantennya sudah disiapkan, jadi orang yang mau ruwat tinggal datang saja membawa baju ganti, serta tirta dari kawitan.
"Kalau untuk ruwatan jurang ketemu ini, sekali saja cukup. Tetapi kalau bayuh oton baru diperlukan tiga kali," sebut pemangku yang sudah menjalankan ruwatan sejak dua tahun lalu ini.
Untuk bayuh oton, kata dia, harus tiga kali diwacak dan diberi labaan kepada kanda empat yang diajak lahir. Sebab ada kala, bhuta, dan dewa diantaranya.
"Dahulu sebelum seseorang lahir kan ada perjanjian, dan ada semaya makanya ada penebusan," ucapnya.
Biasanya dilakukan dari lahir sampai ketus gigi. Kemudian saat akhil balik, dan saat dewasa atau mempunyai anak, lalu saat tua atau telah memiliki cucu.
"Biasanya setelah menikah dan memiliki anak satu, kondisi rumah tangga akan panas dan ada saja masalah. Sehingga harus bayuh oton ketiga kalinya waktu itu," jelasnya.
Baca juga: Dirayakan Setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep, Tumpek Landep Juga Untuk Memuliakan Teknologi
Bayuh oton penting untuk keseimbangan sekala-niskala seseorang. Karena seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, tentu saja kian sulit menjaga kanda empat ini sebagai pelindung diri.
Apalagi bila banyak datang cobaan, godaan, dan serangan. Semua ini sudah tertera dengan jelas dalam lontar-lontar tentang ruwatan atau tenung, serta lontar pewacakan kelahiran.
Untuk bayuh jurang ketemu ini dilakukan di lebuh atau di angkul-angkul depan rumah menghadap ke timur banten dan prosesinya.
(*)