Caru Ruwat Bhumi Nangluk Merana Agung, dari Poros Tampaksiring Doakan Dunia Sembuh dari Grubug 

Di gedong Griya Shunya Tampaksiring, Ida Bagus Bhaskara tampak duduk berbincang. Matanya menatap sekitar melihat warga yang sedang mempersiapkan

Istimewa
Warga mempersiapkan sarana upakara di Griya Shunya Tampaksiring, Selasa (24/11/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Di gedong Griya Shunya Tampaksiring, Ida Bagus Bhaskara tampak duduk berbincang.

Matanya menatap sekitar melihat warga yang sedang mempersiapkan upacara Caru Ruwat Bhumi, Nangluk Merana Agung. 

Buda Kliwon Matal, Sasih Kanem, Rabu (25/11/2020), akan digelar ritual di perempatan Agung Tampaksiring atau bencingah Puri Tampaksiring.

Inilah jalur niskala yang ditempuh krama untuk meredam pandemi Covid-19. 

Baca juga: Antisipasi Tindakan Brutal KKB Papua, TNI-Polri akan Gelar Patroli Besar Jelang HUT OPM 1 Desember

Baca juga: Pemkot Denpasar Adakan Lokakarya Perencanan Evaluasi Kota Tanpa Kumuh

Baca juga: Awal Mula Surya Paloh Positif Covid-19, Sebelumnya Disebut Deman Berdarah hingga Trombosit Turun 

"Jauh sebelum ini, berulang kali sudah kita menghadapi pandemi. Kita banyak melakukan ruwatan untuk penyembuhan. Semoga bisa menetralisir pengaruh buruk dari pandemi ini," ujar Gus Bhaskara, Selasa (24/11/2020).

Ia yang menjadi manggala karya dalam ritual ini menjelaskan, ada empat lontar yang dijadikan rujukan.

Pertama adalah lontar Panugrahan Bhatara Sakti Manuaba, kedua lontar Kala Maya Tatwa, ketiga lontar Caru Sasih, kemudian terakhir lontar Tutur I Gede Mecaling. 

Baca juga: Alih Fungsi Ketungan, Dulu Tempat Penumbuk Beras, Kini sebagai Alat Musik

Baca juga: Mulai Dioperasikan, Hari Pertama Lab PCR Denpasar Uji 40 Spesimen

Baca juga: Ini Sosok Komandan Paspampres yang Baru Dilantik oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto

Intisari dari empat lontar tersebut berisikan tentang tata cara dan tuntunan bagaimana menanggulangi grubug atau pandemi.

Gus Bhaskara menjelaskan, grubug kali ini sudah berlangsung lama dan telah memukul masyarakat. Tidak hanya kesehatan tapi juga menghajar ekonomi hingga psikologis. 

"Bicara konsep mistik di Bali, bentangan kosmologi hanya dua, Bhuana Agung dan Bhuna Alit. Jadi ritual yang kami gelar untuk menyeimbangkan alam makro dan alam mikro. Kita semua mendoakan dunia agar lekas membaik," jelasnya. 

Baca juga: Pertunjukan Sakral Dipentaskan, Tampaksiring Gelar Caru Ruwat Gumi untuk Netralisasi Covid-19

Baca juga: Langgar Aturan, Shin Tae-yong Pecat Dua Pemain Timnas U19 Indonesia Ini

Baca juga: Dua Orang Saksi Pelapor AWK dari Forkom Taksu Bali Diperiksa Polda Bali

Ritual yang sudah dipersiapkan sejak sebulan ini menggunakan caru panca mustika.

Di antaranya terdiri atas ayam manca warna, bebek hitam, dan sambleh kucit butuan. Kata Gus Bhaskara, hal tersebut adalah yantra-yantra yang digunakan untuk menyeimbangkan alam. 

Dengan niat yang tulus mendoakan alam dan pengharapan agar bumi sembuh dari pandemi, Gus Bhaskara mengaku terharu dengan semangat warga Tampaksiring serta prajuru.

Bahu-membahu mereka melewati proses dan tahapan upacara. 

Jika warga tidak punya uang, maka mereka akan mapunia barang.

Jika tidak ada uang dan barang, mereka akan mengerahkan tenaga.

Kata dia, inilah fondasi ritual berdasarkan kebersamaan tujuan yaitu mendoakan alam beserta isinya melalui poros Tampaksiring

"Memang kendalanya pendanaan cukup besar, tapi antusias masyarakat sangat luar biasa. Ada donatur tenaga, sarana upakara. Ada juga warga kami terdampak PHK, dia sangat ingin terlibat tapi tidak punya uang dengan senang hati menghaturkan busung," ujarnya. 

Gus Bhaskara menegaskan, protokol kesehatan dalam ritual ini tetap dijalankan dengan disiplin menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved