Berita Tabanan

Pramudi Masih "Ngayah", Layanan Angkutan Siswa di Tabanan Mulai Beroperasi

Pramudi yang memiliki angkutan untuk sementara "ngayah" lantaran biaya angkutan hanya cukup untuk operasional.

Istimewa
Suasana layanan angkutan siswa mandiri di depan SMPN 2 Tabanan, Senin 4 April 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Layanan Angkutan Siswa Mandiri di Kabupaten Tabanan sudah mulai beroperasi sejak Junat 1 April 2022.

Namun jika dulunya biaya layanan untuk mendukung pelaksanaan PTM ini ditanggung pemerintah, kini ditanggung oleh orang tua siswa.

Selain itu, pramudi yang memiliki angkutan untuk sementara "ngayah" lantaran biaya angkutan hanya cukup untuk operasional.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Tabanan, I Made Yasa, program layanan angkutan siswa akhirnya kembali beroperasi sejak 1 April 2022 lalu atau saat hari pertama pelaksanan PTM di Tabanan.

Baca juga: Kejari Tabanan Optimis Optimalkan Kepesertaan JKN-KIS

Kembalinya layanan ini berdasarkan kesepakatan antara pemerintah, pramudi, komite sekolah hingga pramudi.

"Astungkara sudah mulai beroperasi lagi (layanan angkutan siswa). Ini sudah beroperasi sejak 1 April kemarin," kata Yasa saat dikonfirmasi, Senin 4 April 2022. 

Made Yasa menjelaskan, sejauh ini layanan angkutan siswa ini berjalan lancar meskipun sistem atau mekanismenya berbayar.

Hal ini berbeda dengan sebelum pandemi terjadi, karena biaya angkutan ditanggung oleh Pemerintah Daerah.

Hingga kini, sudah ada sekitar 40 persen orangtua siswa yang setuju atau sudah memanfaatkan layanan ini.

"Sebagian besar sudah setuju, dulunya 30 persen sekarang sudah 40 persen lah orang tua yang menggunakan layanan ini. Jadi sisanya masih ada orang tua yang memang mengantar anaknya sekolah," jelasnya.

Baca juga: 28 TPS3R Diserahkan ke Desa, Sampah di Tabanan Kini Dikelola oleh Desa

Kemudian, kata dia, untuk sistem pembayarannya menggunakan dua model. Yakni pembayaran secara tunai (cash) dan juga menggunakan Qris yang difasilitasi oleh BPD Bali.

Penggunaan Qris dilakukan langsung oleh siswa yang membawa handphone, sedangkan yang tidak, membayar secara manual atau tunai. 

"Untuk biayanya Rp6.000 pulang pergi (PP). Jadi sebenarnya nilai atau biaya ini hanya cukup untuk operasional angkutan itu sendiri. Di sini kita sudah sepakat dengan pramudi untuk kembali operasional saja dulu. Artinya kita membantu sesama khususnya siswa ketika pelaksanaan PTM dimulai," ungkapnya. 

Disinggung mengenai jumlah armada dan trayek angkutan siswa mandiri ini, mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Tabanan ini menyebutkan ada 87 armada angkutan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved