Wawancara Tokoh
Kelihan Desa Adat Tenganan I Putu Suarjana, Sisi Magis Kain Gringsing dan Pelestarian Alam
Kain gringsing memiliki nilai dan makna magis, yang tersohor hingga mancanegara.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Lalu ada kalajengking di dua sisinya, itu sebagai simbol saja. Sifatnya yang diikuti.
Jadi ketika tidak diganggu mereka tidak akan menyerang, namun ekornya dalam posisi siaga jika diserang.
Ada namanya motif cemplong, ada motif wayang, dan masih banyak lagi.
Lalu yang digunakan untuk upacara motif apa?
Pada bulan pertama sasih kasa, ada namanya nyandang kebo maka warga adat di sini wajib menggunakan kain gringsing motif wayang kebo.
Ada aturan kapan harus pakai gringsing dan tidak pakai kain gringsing.
Tidak bisa sembarangan dipakai begitu saja.
Penggunaan kain ini pun hanya pada upacara atau waktu tertentu saja, semisal dalam upacara rejang dengan menggunakan gringsing. Inilah nilai sakralisasinya.
Ada sanan empeg, anteng, selendang, saput, dan penggunaannya juga ada aturannya.
Bagaimana generasi muda di Tenganan dalam melihat kain gringsing di era modern?
Bagi kami di Tenganan Pagringsingan, tidak terlalu pengaruh dengan era modern ini.
Karena anak-anak kami sudah terbiasa melihat proses pembuatan kain gringsing di rumahnya.
Bahkan kami yakin kain gringsing tidak akan pernah punah di Tenganan.
Sebab pembuatan kain gringsing tidak semata-mata dari sisi finansialnya saja, namun kain ini adalah bagian keseharian masyarakat kami.
Masyarakat Tenganan wajib memiliki kain gringsing dan wajib menggunakannya.
Apalagi saat ritual suci keagamaan. Bukan semata-mata fashion atau gengsi saja.
Sebagai tokoh adat bagaimana mengajak generasi muda ikut melestarikan gringsing?
Medianya melalui upacara untuk sosialisasi pelestarian ini.
Salah satu contoh, tatkala ada upacara maka kelompok remaja putra kami dikumpulkan.
Lalu disediakan upacara yang merupakan media sosialisasi, termasuk etika, moralitas, dan sebagainya.
Contoh saja, generasi penerus diberikan warisan tanah yang dikelola sendiri, dan hasilnya dipakai upacara.
Sehingga di Tenganan sangat mandiri sampai saat ini.
Konsep mandiri di Tenganan Pagringsingan itu seperti apa?
Generasi muda di Tenganan diajak melestarikan alam lingkungan warisan leluhurnya.
Ada aturan proteksi wilayah kami sejak zaman dahulu, dan semua yang digunakan untuk upacara harus ditanam dan disediakan di lahan itu.
Sehingga kami mandiri dalam hal itu, karena hutan kami dijaga betul.
Dari 900 Ha lebih luas Tenganan Pagringsingan, 500 Ha lebih adalah hutan.
200 Ha lebih dari hutan itu adalah hutan produktif seperti kebun dan ladang warga kami.
300 Ha lebih adalah hutan lindung.
Makanya kami diajarkan mandiri dan tidak ketergantungan, namun kami memfilter juga modernisasi ke sini. (*)
Kumpulan Artikel Karangasem