Berita Buleleng
Turunkan Kolesterol Tinggi Saat Hari Raya dengan Ramuan Tradisional, Ini Jamu Anti Kolesterol
Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak lepas dari keberadaan daging. Daging merupakan bagian dari sarana persembahyangan umat Hindu saat merayakan Gal
Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Harun Ar Rasyid
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak lepas dari keberadaan daging.
Daging merupakan bagian dari sarana persembahyangan umat Hindu saat merayakan Galungan dan Kuningan.
Prasadam atau lungsuran dari persembahan kepada Bhatara-bhatari dan para dewa pada hari raya ini wajib dikonsumsi oleh umat Hindu.
Termasuk diantaranya adalah daging yang diolah menjadi lawar, sate, dan daging goreng.
Namun mengonsumsi daging yang berlebihan akan memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan, salah satunya adalah tingginya kolesterol dalam darah.
Hal ini diungkapkan oleh TOT Asuhan Mandiri Kesehatan Tradisional Kabupaten Buleleng, Desak Putu Rimbawati.
Kolesterol tinggi (hipokolesterol) adalah keadaan kadar kolesterol di atas normal, yaitu lebih dari 200 mg/dl berdasarkan pemeriksaan laboratorium.
Perempuan yang akrab disapa ibu Desak ini juga mengutarakan beberapa akibat koleterol tinggi.
“Kalau kolesterol tinggi menyerang orang biasa, biasanya hanya menimbulkan gejala-gejala umum dirasakan.
Mulai dari sakit kepala, leher tegang, serta kesemutan pada tangan dan kaki.
Tapi kalau kolesterol menyerang mereka yang mengidap penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan riwayat penyakit jantung, dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat,” jelas Ibu Desak.
Untuk membantu menurunkan kolesterol, Ibu Desak menganjurkan masyarakat untuk mengonsumsi ramuan jamu kolesterol tinggi.
Jamu ini berbahan dasar tanaman tempuyung yang dapat ditemukan di sekitar rumah.
Tempuyung adalah tanaman liar yang biasa tumbuh di sela-sela tembok.
Orang Bali biasa menyebut tanaman ini dengan sebutan sembung bikul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/zm-xczxc.jpg)