Berita Gianyar
Gianyar Targetkan Tanam Padi di Lahan Seluas 29.505 Hektare
Di tengah gempuran berbagai sektor, pertanian masih menjadi perhatian Pemkab Gianyar, Bali. Hal itu dikarenankan komoditas padi masih menjadi ketergan
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Harun Ar Rasyid
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Di tengah gempuran berbagai sektor, pertanian masih menjadi perhatian Pemkab Gianyar, Bali.
Hal itu dikarenankan komoditas padi masih menjadi keterganrungan masyarakat, meskipun akhir-akhir ini, pemerintah pusat meminta agar masyarakat tidak lagi menggantungkan karbohidratnya pada nasi.
Namun, dikarenakan secara umum masyarakat 'tidak kenyang' sebelum makan nasi, sehingga Gianyar pun terus menargetkan luas tanam padi.
Seperti dalam data Dinas Pertanian Gianyar yang dihimpun, Jumat 17 Juni 2022, mereka menargetkan luas tanam padi tahun ini sekitar 29.504 hektar.
Target tersebut sejatinya melebihi dari luas lahan pertanian aktif di Gianyar. Saat ini, luas lahan aktif hanya 13.456 hektare.
Adapun langkah yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target luas tanam ini, adalah memanfaatkan padi yang masa tanamnya dua sampai tiga kali dalam setahun.
Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian Gianyar, I Wayan Suarta membenarkan hal tersebut. Kata dia, target tanam di tahun ini meningkat sedikit dibanding 2021.
"Ada sejumlah saluran irigasi mengalami kerusakan, sehingga target tanam berkurang," jelas Wayan Suarta.
Baca juga: Angka Stunting di Gianyar di Level 5, Sekda Gianyar Kumpulkan OPD untuk Tuntaskan
Baca juga: TUNGGAKAN BPJS Kesehatan Pasca Covid-19 di Gianyar Didominasi Usaha Pariwisata
Baca juga: 3.407 Babi Dipotong Saat Galungan di Gianyar, Stok Babi Saat Kuningan Aman
Kata dia, realisasi tanam sampai awal Juni ini sudah 11.284 hektar. Pihaknya pun optimis bisa mencapai target.
Sebab saat ini, masyarakat mulai banyak yang menekuni aktivitas bertani pasca 'gempuran' covid-19. Namun yang menjadi buah pikirannya adalah, di tengah semangat tersebut, terdapat keterbatasan air, karena sejumlah saluran irigasi tengah diperbaiki.
"Kalau gagal tanam belum ada, yang ada adalah tunda tanam sampai seminggu atau dua minggu. Hal ini karena antar subak menunggu mendapat giliran air irigasi," ujarnya.
"Debit air juga mulai mengalami penurunan, selain karena memasuki musim kemarau dan beberapa saluran irigasi ada yang bocor atau perbaikan. Walau demikian sampai saai ini belum terjadi konflik antar subak terkait pembagian air," imbuhnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sadma-sdm-asmdas-d.jpg)