Berita Bali
WADUH, Empat Sapi Di Desa Demulih Terindikasi PMK dan Pasar Sapi Beringkit Juga Ditutup!
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kian meluas di Bangli. Vaksin pun akan dilakukan. Dampak PMK juga membuat transaksi sapi berkurang di Beringkit.
TRIBUN-BALI.COM - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kian meluas di Bangli.
Setelah laporan dua ekor sapi di wilayah Banjar Tabih, Desa Buahan, Kintamani, yang bergejala PMK.
Laporan gejala serupa juga muncul di Kecamatan Susut, Bangli.
Informasi yang dihimpun, sapi itu milik I Wayan Kiyeng, warga Banjar Demulih, Desa Demulih, Kecamatan Susut.
Kepala Dinas Kominfosan Bangli, I Wayan Dirgayusa, membenarkan adanya laporan sapi terindikasi PMK.
Laporan ini diterima pada hari Selasa (5/7/2022).
"Informasi Kadis Pertanian, ada enam ekor sapi, dan empat diantaranya terindikasi PMK," ungkapnya.
Baca juga: VIRUS PMK Merebak di Bali: Belum Ada Penutupan Pasar Hewan di Tabanan
Baca juga: Badung Target 34.141 Ekor Hewan Berkuku Belah Mendapatkan Vaksin PMK

Kata Dirgayusa, Pihak Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) pun, telah mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi ternak.
Dan rencananya besok (Rabu) akan dilaksanakan vaksinasi.
"Pelaksanaan vaksin dari tim medis kehewanan dinas pertanian, dengan satu dokter dan dua petugas administrasi," sebutnya.
Dirgayusa yang merupakan warga asal Demulih itu mengatakan, dari informasi warga, sapi itu tergolong baru dipelihara.
Disinggung kemungkinan sapi tertular PMK darimana, dia mengatakan pihak dinas masih menggali informasi lebih lanjut.
"Sementara masih dipelajari secara teknis oleh pihak dinas terkait," tandasnya.

Buntut PMK Merebak di Bali, transaksi hewan di Pasar Beringkit pun distop selama 2 minggu.
Pemberhentian transaksi sapi di Pasar Beringkit pun dilakukan, untuk mengantisipasi penyebaran penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Badung.
Bahkan jika ada warga yang hendak menjual sapinya, ke Pasar Beringkit akan langsung ditolak.
Kendati transaksi sapi dihentikan, namun tidak akan menutup pasar hewan di Pasar Beringkit.
Pasalnya selain sapi, di pasar hewan beringkit juga ada penjualan hewan lainnya seperti bebek, ayam, burung dan yang lainnya.
Dirut Perumda Pasar Mangu Giri Sedana, I Made Sukantra, mengaku penutupan transaksi sapi di pasar hewan Beringkit tersebut mulai dilakukan pada hari ini atau pada 5 juli 2022 sampai 19 Juli 2022.
Hal itu pun dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus PMK.
"Jadi ini sudah sesuai keputusan pemerintah pusat, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bahkan dari BNPB tadi sempat datang ke kantor kami dan memantau Pasar Beringkit," ujarnya saat dikonfirmasi Selasa 5 Juli 2022.
Kendati transaksi sapi dihentikan, namun tidak membuat Pasar Beringkit tutup secara permanen.
Diakui pasar hewan masih tetap buka, untuk penjualan hewan lainnya selain sapi.
"Pada intinya, sapinya yang tidak diberikan lalu-lalang.
Kalau ayam dan yang lain tetap bisa dilakukan, sehingga pasar tidak tutup semua," tegasnya.

Disinggung mengenai kapan akan buka kembali, Sukantra mengaku sesuai arahan pemerintah pusat.
Pasalnya saat ini sedang digencarkan proses vaksinasi PMK.
"Jadi aparat kepolisian juga ikut menangani PMK, khususnya di Badung.
Bahkan jika ditemukan ada orang yang mengangkut sapi di jalan, akan dikembalikan ke tempat asalnya," ucapnya.
Dengan tidak adanya transaksi sapi, pihaknya mengakui akan mempengaruhi pendapatan Perumda Pasar Mangu Giri Sedana.
Bahkan jika transaksi sapi distop pendapatan pasti turun drastis.
"Kemarin aja kita prediksi potensi pendapatan ilang Rp 2 miliar, tapi sekarang mungkin bisa lebih.
Termasuk dari pendapatan parkir juga berkurang.
Namun untuk berapa berkurang saya belum bisa beri tahu, karena itu soal data, dan saya tidak memegang data," akunya.
Lebih lanjut pihaknya mengimbau agar masyarakat yang akan menjual sapi diharapkan agar dilakukan penundaan.
Selain sapi, babi dan kambing juga berpotensi terkena virus PMK.
"Semua hewan yang memiliki kuku belah kita harapkan tidak lalu-lalang.
Sehingga virus PMK ini tidak cepat menyebar di Bali khususnya Badung," sarannya.
Seperti diketahui, dengan tidak adanya penjualan sapi di Pasar Beringkit, membuat Perumda Pasar Mangu Giri Sedana kebingungan.
Bahkan berpotensi kehilangan pendapatan Rp 2 miliar.
Hal itu lantaran saat hari Raya Idul Adha 2022, pengiriman sapi Bali distop oleh pemerintah untuk mengantisipasi penyebaran PMK.
Bisanya jelang Idhul Adha, transaksi pembelian sapi di Pasar Beringkit sangat tinggi.
Pasalnya momen tersebut, sapi Bali bisa terjual mahal dengan jumlah yang sangat banyak.
"Kalau bilang rugi, sangat rugi.
Jangankan kami peternak juga rugi, karena tidak bisa menjual sapinya.
Mengingat saat Idul Adha harga sapi bisa terjual mahal, dari Rp 43 ribu/Kg di hari biasa, bisa meningkat menjadi 54 ribu/Kg untuk sapi hidup," imbuhnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung, I Wayan Wijana, juga membenarkan hal tersebut.
Pihaknya mengaku, selain melakukan vaksinasi untuk meningkatkan kekebalan sapi.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan Satgas PMK Badung, untuk melakukan penutupan sementara transaksi jual beli sapi di pasar Hewan Beringkit mulai tanggal 5 – 19 Juli 2022.
"Iya transaksi sapi kita stop untuk di Pasar Hewan Beringkit.
Semua itu pun merujuk dari keputusan pemerintah pusat dan provinsi Bali," ujarnya singkat. (mer/agus)