Berita Bali

BADAI Resesi Global Perlu Diwaspadai, Potensi Ada PHK Kembali, Simak Ulasannya Berikut Ini!

Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali, Panudiana Kuhn. Badai resesi dan PHK pun di depan mata. 

Tribun Bali/Wema Satyadinata
Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali, Panudiana Kuhn mengatakan kondisi Bali belum baik-baik saja. Badai resesi dan PHK pun di depan mata.  

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kendati sudah melewati masa sulit karena pandemi Covid-19.

Nyatanya kondisi perekonomian Bali belum kunjung pulih.

Banyak pakar yang mengatakan, bahwa untuk pulih seperti sediakala memerlukan waktu. 

Tak hanya pada sektor pariwisata, sektor lain seperti ekspor juga belum membaik.

Hal tersebut disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali, Panudiana Kuhn.

Badai resesi dan PHK pun di depan mata. 

Baca juga: BBM Naik, Respon Ketua HIPMI BALI : Pariwisata Belum Pulih Jangan Sampai Inflasi dan Resesi

Baca juga: Indonesia Resmi Resesi, Bakal Berujung Krisis Ekonomi?

Kendati sudah melewati masa sulit karena pandemi Covid-19.

Nyatanya kondisi perekonomian Bali belum kunjung pulih.

Banyak pakar yang mengatakan, bahwa untuk pulih seperti sediakala memerlukan waktu. 

Tak hanya pada sektor pariwisata, sektor lain seperti ekspor juga belum membaik.

Hal tersebut disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali, Panudiana Kuhn.
Kendati sudah melewati masa sulit karena pandemi Covid-19. Nyatanya kondisi perekonomian Bali belum kunjung pulih. Banyak pakar yang mengatakan, bahwa untuk pulih seperti sediakala memerlukan waktu.  Tak hanya pada sektor pariwisata, sektor lain seperti ekspor juga belum membaik. Hal tersebut disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali, Panudiana Kuhn. (Tribun Bali/Wema Satyadinata)

“Ekspor belum membaik, kecuali batu bara dan kelapa sawit.

Garmen, tekstil, handycraft, sepatu, lain-lain masih masalah, karena di negara lain juga masih sepi karena lockdown kemarin.

Apalagi pariwisata belum booming,” jelasnya pada, Senin 3 Oktober 2022.

Saat ini, ia melihat, keberadaan pesawat sebagai transportasi udara tidak seramai sebelum pandemi Covid-19.

Meski pun ada, kata dia, harga tiketnya kini relatif mahal.

Pesawat yang mestinya terbang, justru hanya diam selama dua tahun, dan jika akan dioperasionalkan kembali, tentunya memerlukan biaya untuk penyegaran.

Itulah mengapa tidak sedikit penerbangan bangkrut dan melakukan PHK terhadap pegawai, kru, hingga pilotnya.

Ilustrasi pesawat terbang - Saat ini, ia melihat, keberadaan pesawat sebagai transportasi udara tidak seramai sebelum pandemi Covid-19.

Meski pun ada, kata dia, harga tiketnya kini relatif mahal.

Pesawat yang mestinya terbang, justru hanya diam selama dua tahun, dan jika akan dioperasionalkan kembali, tentunya memerlukan biaya untuk penyegaran.

Itulah mengapa tidak sedikit penerbangan bangkrut dan melakukan PHK terhadap pegawai, kru, hingga pilotnya.
Ilustrasi pesawat terbang - Saat ini, ia melihat, keberadaan pesawat sebagai transportasi udara tidak seramai sebelum pandemi Covid-19. Meski pun ada, kata dia, harga tiketnya kini relatif mahal. Pesawat yang mestinya terbang, justru hanya diam selama dua tahun, dan jika akan dioperasionalkan kembali, tentunya memerlukan biaya untuk penyegaran. Itulah mengapa tidak sedikit penerbangan bangkrut dan melakukan PHK terhadap pegawai, kru, hingga pilotnya. ((Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin))

 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved