G20 di Bali
Menko Luhut Tegaskan Pentingnya Peningkatan Penanggulangan Sampah Laut
Acara ini juga merupakan rangkaian Presidensi KTT G20, yang akan berlangsung pada 15-16 November 2022 mendatang.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Dalam rangka penanggulangan sampah laut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), bersama dengan National Plastic Action Partnership (NPAP) Indonesia menyelenggarakan kegiatan 'Beating Plastic Pollution from Source to Sea' di Bali, 3 dan 4 November 2022.
Acara ini juga merupakan rangkaian Presidensi KTT G20, yang akan berlangsung pada 15-16 November 2022 mendatang.
“Saya sangat mengapresiasi komitmen besar pada hari ini.
Momen ini menunjukkan bahwa kita telah datang dengan tindakan nyata, melampaui kata-kata,” ujar Menko Luhut, melalui rekaman video yang ditampilkan pada acara pembukaan, di Jimbaran, Badung, Bali, Kamis 3 November 2022.
Baca juga: Saat Puncak G20, TPA Suwung Tutup Selama Dua Hari, Denpasar Optimalkan TPS3R
Baca juga: Dukung Penyelenggaraan KTT G20, Garuda Indonesia Kembali Operasikan Rute Narita-Denpasar PP

Saya percaya aksi kolaboratif ini akan menentukan masa depan kita.
“Terkait G20 mendatang, ikrar ini harus didukung dan ditingkatkan oleh pihak-pihak lain yang peduli terhadap generasi penerus,” katanya.
Menambahkan Menko Luhut, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves, Nani Hendiarti, menekankan kembali komitmen serius dalam memerangi masalah sampah plastik laut ini, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 83/2018 tentang Penanganan Sampah Laut, dengan target 70 persen penanganan sampah laut di tahun 2025.
“Untuk mencapai target tersebut, pemerintah bersama dengan para pemangku kepentingan telah berupaya untuk mengambil langkah-langkah yang tidak biasa (business as usual) untuk memastikan terjadinya percepatan pengelolaan sampah dan mencegah kebocoran sampah ke laut,” ungkap Deputi Nani.
Upaya ini pun turut diperkuat dengan kontribusi pengurangan sampah dari produsen manufaktur, retail, dan jasa makanan dan minuman, untuk melakukan kegiatan pembatasan, pendauran ulang dan/atau guna ulang produk dan kemasannya, sebagai bentuk dari tanggung jawab produsen.
Tak hanya itu, pemerintah juga berkolaborasi dengan berbagai pihak yakni salah satunya National Plastic Action Partnership (NPAP) Indonesia.
“NPAP telah menjadi platform multi-stakeholder yang menghubungkan pembuat kebijakan, pakar, pemimpin bisnis, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi melalui lima gugus tugas yakni Kebijakan, Pembiayaan, Inovasi, Perubahan Perilaku, dan Metrik.
Sebagai bukti kolaborasi multipihak dalam NPAP, hari ini kita bertemu di acara ini yang merupakan sebagai bagian dari momentum penyelenggaraan G20 Summit mendatang,” jelasnya.
NPAP sendiri diketahui telah terbentuk sejak tahun 2019.

“Merupakan suatu kebanggaan melihat kita semua berkumpul hari ini dan berikrar untuk komitmen yang lebih ambisius dalam mengurangi polusi plastik. Ini adalah salah satu masalah terbesar yang dihadapi dunia saat ini, dan pemerintah, bisnis atau komunitas tidak dapat bekerja sendirian. Kolaborasi adalah kunci keberhasilan kita dalam mengurangi kebocoran plastik di laut,” kata Tuti Hadiputranto, selaku Chairwoman NPAP Indonesia.
Lebih lanjut dirinya menambahkan bahwa acara yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta ini tentu tidak dapat sepenuhnya bebas dari sampah plastik, namun NPAP berupaya untuk meminimalkan dampak lingkungan dengan melibatkan para mitra.