Berita Buleleng
Omzet Menjanjikan, Budidaya Bunga Krisan di Buleleng Masih Minim
Kebutuhan bunga krisan cukup tinggi di Buleleng. Tanaman hias ini kerap digunakan untuk karangan bunga, karena memiliki berbagai macam warna.
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Kebutuhan bunga krisan cukup tinggi di Buleleng. Tanaman hias ini kerap digunakan untuk karangan bunga, karena memiliki berbagai macam warna.
Namun sayang, potensi ini belum seluruhnya dimanfaatkan oleh petani di Buleleng.
Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng, I Gede Subudi dikonfirmasi Minggu (6/11) mengatakan, budidaya bunga krisan baru dikembangkan oleh beberapa petani yang ada di wilayah Desa Pancasari dan Desa Tambakan.
Baca juga: Pemkab Buleleng Buka Seleksi PPPK Guru, Catat Jadwalnya, Tutup Minggu ini
Namun hal tersebut belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan para pengusaha florist di Buleleng. Sehingga bunga krisan kerap didatangkan dari Malang, Jawa Timur.
Subudi menyebut, budidaya bunga krisan memang cukup rumit. Harus ditanam di daerah dataran tinggi, serta ditanam di green house yang terkena sinar matahari penuh. Ini dilakukan agar tangkai bunga lebih panjang.
Sebab para pengusaha florist membutuhkan panjang tangkai kurang lebih 80 meter, agar bunga dapat dirangkai.
Baca juga: Habisi Nyawa Sang Istri, Putu Ardika Terancam Hukuman Seumur Hidup, Ditahan di Rutan Polres Buleleng
"Kalau tidak ditanam di green house, tetap bisa tumbuh tapi jatuhnya hanya sebagai tanaman hias di pot. Kalau di green house, tangkainya akan lebih panjang jadi butuh tali juga untuk mengikat. Jadi untuk menanam bunga krisan ini butuh perlakukan khusus," terangnya.
Mengingat cara pemeliharaanya cukup rumit, hal ini lah yang membuat para petani di Buleleng kurang berminat untuk membudidayakan bunga krisan.
Baca juga: Tenun Buleleng Bermotif Mangrove Hingga Penyu Kambang Dipamerkan Saat G20
Petani lebih cenderung memilih untuk menanam sayur-sayuran. Namun rumitnya pemeliharaan, sebanding dengan harga jualnya.
Di pasaran, kata Subudi harga bunga krisan mencapai Rp1.500 hingga Rp2000 per tangkai.
"Petani yang mengembangkan bunga krisan di Pancasari dan Tambakan itu rata-rata dijual sampai ke Denpasar. Kebutuhannya memang sangat tinggi, karena dipakai untuk karangan bunga, dekor acara pernikahan hingga hotel dan restoran," jelasnya.
Melihat potensi ini, Subudi pun menyebut pihaknya siap memfasilitasi petani yang ingin belajar membudidayakan bunga krisan, serta membantu pemberian bibit.
"Kalau ada petani yang mau, kami siap bantu mendampingi, memberikan pelatihan cara menanam. Kami buat demplot dulu, kira-kira di wilayah yang mau ditanami itu cocok atau tidak," terangnya.
Selain itu, pada 2023 mendatang Kementerian Pertanian melalui program Horticulture Development Dryland Area Project (HDDAP) juga akan mencoba mengembangkan budidaya bunga krisan ini di Buleleng.
"Selain bunga krisan juga akan ada budidaya bawang merah, kubis, brokoli, huah naga, durian hingga manggis. Program ini satu-satunya di Bali, untuk melatih petani agar produknya bisa di ekspor. Teknisnya masih dalam pembahasan," tandasnya. (*)